Planet Singapura


Wrist Fringed Bracelet

Posted in articles by Blogger on the October 25th, 2008
*Article adopted from Inspiration Guide, Create Your Style with Swarovski Crystal Elements, October 2008. Crystalized, Swarovski Elements*.

Comments Off

Puasa

Posted in Planet Singapura, hari-hari Luki, articles by ari3f on the August 31st, 2008

Besok pagi sudah mulai makan sahur, lalu berpuasa sehari penuh (insyaallah!). Sudah lima tahun ini puasanya di negeri orang (eh, tahun 2005 puasanya di Bandung, ding …). Banyak yang nanya: apa bedanya puasa di Indonesia dengan di Singapura? Jawabannya: gak ada bedanya; persamaannya: sama-sama gak boleh makan! Hehe. Tapi kegiatan keislaman, seperti berpuasa, di negeri yang kebanyakan non-muslim memang kurang semarak. Kadang kangen juga dengar suara sirine masjid sepanjang satu menit di Bondowoso (untuk menutup sahur atau berbuka puasa).

Hari ini tidak ada persiapan khusus untuk bulan puasa, kecuali harus masak di pagi buta. Dulu pas pertama menempati flat, juga pas bulan puasa. Makannya darurat, masakan ditaruh di atas meja kecil. Sekarang? Tetap darurat. Soalnya meja makan dipakai buat naruh komputer dan printer. Hehe. Jadilah meja kerja. Makan ya lesehan aja.

Kami tidak pakai antena khusus, jadi TV Indonesia gak ada yang dapat. Kuiz, humor, ceramah agama dan hiburan menjelang imsak yang biasa ditayangkan di hampir semua stasiun TV Indonesia tidak bisa dinikmati. Harus beli antena khusus supaya dapat bocoran sinyal dari Batam.

Ada teman yang nanya: pas bulan puasa, apa kamu boleh menelan ludah sendiri? Waaah, ya boleh lah. Yang gak boleh itu menelan ludah orang lain! Hehe. Dikiranya, karena tidak boleh makan minum, maka menelan air jenis apapun tidak diperbolehkan. Bayangkan apa yang terjadi jika kita tidak menelan ludah sendiri? Bakal sering kumur-kumur.

Apa sih esensi puasa? Wah filosofis sekali ya. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk merefleksikan diri, berkaca, meninggalkan kebiasaan buruk, memperbanyak amal baik, menahan hawa nafsu (dari yang paling sederhana seperti makan-minum, hingga melakukan jima’). Saya bilang sama teman kantor bahwa bulan ini saya akan berhenti ngguyoni mereka, “I will stop teasing you, guys. Maybe you will see me as a-bit-quiet person” (haha). Bulan puasa juga mengajarkan empati, turut merasakan tidak makan sehari penuh, seperti keadaan saudara-saudara kita yang kekurangan. Bulan puasa mengajarkan kita untuk bersyukur, bahwa kita masih diberi kesehatan yang baik untuk bisa menjalankan puasa bersama orang-orang yang disayangi.

Puasa adalah pilihan. Orang boleh milih tidak berpuasa, atau berpura-pura sahur lalu minum di tempat tersembunyi. Karena ia adalah pilihan maka orang yang berpuasa tidak usah minta dihormati. Puasa ya puasa aja, gak usah minta warung-warung ditutup. Mereka kan mencari nafkah juga. Hidup seperti biasanya saja, tetap bekerja dan biarkan semua berjalan apa adanya. Kalau ada orang yang makan di depan kita, ya biarkan saja. Kalau tahan kan berarti kita mampu bersabar dan tabah akan goodan (ciee). Tapi kalau dia makan rawon di depan kita … nah ini bisa bikin ngiler benerrrr …. :p

Selingan: pemilik kedai di postingan “Rawon” itu bilang mereka bakal buka sampai jam 8 malam.

Akhir kata, selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga tuhan memberikan tambahan kekuatan dalam menjalankan ibadah ini, memberikan kesabaran, kebaikan. Semoga kita bisa memetik hikmah di keseharian bulan Ramadhan. Amin.

Wis cocok wis dadhi ustad … :D

Berikut foto-foto bulan Ramadhan di daerah Geylang Serai, Singapura. Geylang Serai ini banyak dihuni orang-orang Melayu/Muslim.

Sumber foto: http://www.geocities.com/slowloris9/Diary/071013/071007.htm

Comments Off

Natalitas

Posted in Planet Singapura, articles by ari3f on the August 30th, 2008

Natalitas (angka kelahiran) barangkali punya properti seperti uang dan kekuasaan: ia bermuka dua. Natalitas yang progresif adalah impian negeri yang paceklik bayi; sedangkan, natalitas yang teredam adalah impian negeri yang masif. Singapura adalah yang pertama, sedangkan Indonesia, India, Bangladesh dan Cina adalah yang kedua.

Resep yang ditawarkan pemerintah Singapura, seperti memperpanjang paternity leave (cuti suami untuk menemani istri melahirkan), memberikan baby bonus (khusus warga negara saja; bukan warga tetap), memperpanjang cuti hamil (bagi warga negara) sepertinya kurang efektif. Resep itu tak cukup ampuh memotivasi orang untuk berprokreasi, membentuk keluarga, melupakan “Stop at Two” (sebuah slogan tahun 70an yang dicanangkan pemerintah Singapura untuk meredam ledakan penduduk). Apa yang kurang?

Agaknya, sebuah negeri kecil biasanya punya dilematis. Satu sisi, ia ingin meningkatkan taraf hidup dengan meredam jumlah penduduk, tapi di sisi lain, ia memerlukan penduduk yang “cukup” untuk membuat pertumbuhan ekonomi meningkat. Ketika taraf hidup (dan harapan hidup, tentunya) meningkat sebagai hasil peredaman jumlah penduduk, orang jadi berpaling ke ekonomi dan kemapanan hidup; tak banyak menghabiskan waktu di kehidupan sosial. Ketika kehidupan dan keakraban sosial menurun, turun pula probabilitas perjumpaan antara lelaki dan perempuan. Menurunnya aspek sosial ini, membuat “kehidupan” keluarga yang mudah-menular itu hampir nihil. Orang mengejar materi baik di dalam negeri maupun dengan bermigrasi ke luar.

Hal di atas berada di domain yang terlampau luas barangkali. Coba kita kecilkan: mengapa orang tidak enggan menikah dan punya anak?

[1] Yang pertama dulu: mengapa orang enggan menikah? Mudah saja: tidak mencari jodoh, terlalu hati-hati mencari jodoh, punya stigma bahwa salah satu gender itu materialistik atau agak susah dipahami, tidak punya waktu untuk berkencan, biaya hidup tinggi setelah menikah, kerap kali melihat bahwa kehidupan rumah tangga itu ruwet.

[2] Lalu, mengapa orang menikah: sudah punya pacar - lalu dipengaruhi keluarga/kawan untuk segera menikah, percaya bahwa pernikahan akan membawa rejekinya sendiri, karena menjalankan perintah agama, karena melihat orang lain sungguh berbahagia dengan menikah, diatur keluarganya (seperti 70% penduduk India hari ini), dapat baby bonus, dapat paternity leave dan lainnya. Atau ada yang lebih geblek: karena MBA - married by accident (MBlendung Awal-awal - alias hamil duluan).

[3] Mengapa orang yang sudah menikah tidak ingin punya anak? Wah, ini agak aneh, menurut saya. Masa, habis menikah tidak mau punya anak? Bukannya itu sepaket? Tapi ada yang bilang: “Karir dulu lah!” Artinya, cari duit dulu buat nanti membiayai anak. Hmm, masuk akal. Tapi jika kelamaan dan pasang alat KB sana-sini, akhirnya susah punya anak (atau alasan yang agak menghibur: “belum diberi Tuhan” - yah, Tuhan lagi deh dibawa-bawa). Atau, memang benar-benar tidak diberi anak. Jalan keluarnya barangkali ya adopsi anak.

Ada seorang kawan yang menikah, lalu berkata: saya tidak ingin punya anak karena punya anak itu merepotkan sekali, bising dan susah diatur. Saya lalu bilang: bukannya kamu dulu begitu waktu kecil? Kenapa kamu tidak tanya sama orangtuamu kenapa mereka punya kamu? Dia diam. Ya anak memang kadang bising, dan susah diatur. Ini tes kesabaran bagi orangtua (saya sendiri sering tidak lulus lho hahaha). Tapi solusinya tetap sama: lebih sabar dong … “Anak bukan punya kita, ia titipan”. Ini esensinya. Kalau ia titipan atau amanat, kita mesti menjaganya baik-baik. Titipan siapa? Ya titipan Tuhan. Lho, kalau orangnya tidak bertuhan alias ateis? Ya gunakan kebebasan berpikir untuk menciptakan tuhan sendiri di dalam pikiran lalu berpikir bahwa anak itu titipan “tuhan dalam pikiran” (atau Mind-made God - ini harus dipatenkan! hehe).

Setelah mikir-mikir tentang Singapura yang natalitasnya rendah, entah apa efeknya jika hal-hal berikut ini terjadi:

  • Wajib militer untuk anak laki-laki diperpendek jadi 6 bulan, atau ditiadakan sekalian! (lho, lalu siapa yang jaga Singapura? Indonesia lah … hehe atau sewa professional military troops; sepertinya masalah hankam ini agak susah dipahami)
  • Gaji orang yang menikah dilipatgandakan! Wah, langsung banyak yang kawin kayaknya…
  • Orang yang menikah lalu punya anak: sekolah anak gratis sampai mahasiswa
  • Terapkan: Married-at-30 policy (kalau gak married, out! - banyak yang milih out kayaynya hehehe)
  • Ada ide gila lain?

Comments Off

Orang Bawean di Singapura

Posted in Planet Singapura, articles, Workshops by ari3f on the April 20th, 2008

Apakah itu “Boyan”?

Pada bulan Desember 2005, seorang kawan menawarkan roti “boyan” kepada saya. Alih-alih menikmatinya, saya jadi bertanya: apakah “Boyan” itu? Dijelaskannya bahwa “Boyan” adalah nama lain Bawean, sebuah pulau di dekat Surabaya. Bagaimana “Bawean” bisa menjadi “Boyan”? Hal ini mungkin disebabkan oleh absorbsi bahasa yang menyebabkan ketidakaslian bentuk kata yang umum terjadi pada jaman dulu (sebagian orang menyebutnya ‘korupsi kata’). Nama “bawean” sendiri diberikan oleh orang-orang Majapahit (kerajaan Hindu terbesar di Jawa) pada abad ke 13 yang berarti “matahari terbit”. Karena orang Bawean (atau Madura) mengganti huruf “w” menjadi “b” maka kadangkala Bawean ini disebut Bebien (“e” dibaca seperti ‘benar’).

Matahari terbenam di pulau Bawean

Ketika kecil, sewaktu saya masih tinggal di Probolinggo, sebuah kota 100 km di timur Surabaya, nenek saya kadang bercerita mengenai pulau-pulau di utara Jawa, seperti pulau Gili, kepulauan Karimun Jawa, pulau Bawean dan lainnya. Baginya, beberapa pulau ini adalah tempat ziarah ke makam-makam kyai (seorang pemuka muslim yang biasanya memiliki pesantren atau perguruan agama). Kyai yang terkenal di Bawean adalah almarhum Kyai Maulana Umar Mas’ud. Pada awal 80an itu, pulau-pulau kecil ini masih tak memiliki listrik yang memadai. Listrik hanya dinyalakan pada jam-jam tertentu dan di tempat tertentu, karena listrik dibangkitkan oleh mesin diesel.

Pulau Bawean masuk ke dalam kabupaten Gresik tahun 1974; sebelumnya, pulau Bawean masih bagian dari Surabaya. Letaknya 120 km di utara Gresik. Pulau ini dapat dicapai dengan menggunakan kapal express (ferry) selama 3 – 6 jam. Pulau Bawean sedikit lebih luas daripada pulau Singapura. Namun, penduduknya hanya berjumlah 65000. Pulau ini dibagi menjadi dua kecamatan (district), yaitu Sangkapura dan Tambak. Sangkapura terdiri dari 17 desa, yaitu Desa Sawahmulya, Kota Kusuma, Sungaiteluk, Patarselamat, Gunungteguh, Sungairujing, Baliktetus, Daun, Kebunteluk Dalam, Sidogedung Batu, Lebak, Pudakittimur, Pudakitbarat, Komalasa, Suwari dan Deka-Tagung. Sedangkan, Kecamatan Tambak meliputi 14 desa, yaitu Desa Tambak, Telukjati, Dedawang (Dhedhebeng), Gelam, Sokaoneng, Sukalila, Kalompang Ghubuk, Pakalongan, Tanjunguri, Grejek, Paromaan, Diponggo, Kepuhteluk dan Kepuhlegundi.

Bahasa Bawean

Seorang kawan dekat di Singapura kebetulan keturunan Bawean, dan ayahnya pernah memiliki band yang tersohor di tahun 1950-60an, namanya “La Obe”. Suatu hari saya ingin tahu apakah bahasa Bawean ini lebih mirip bahasa Jawa, bahasa Madura, atau campuran keduanya. Saya bertanya dalam bahasa Madura, dan ayahnya membalas dalam bahasa Bawean. Ternyata bahasa Bawean ini mirip sekali dengan bahasa Madura! Tingkat kemiripannya barangkali lebih tinggi dibanding Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Diceritakannya bahwa orang-orang Bawean yang datang ke Singapura dulunya berpencaharian sebagai ahli agama, guru silat dan pedagang “ilmu”. Menurut sejarah, memang benar bahwa kesenian yang paling menonjol di Bawean adalah kesenian pencak silat. Hingga kini, kesenian ini masih dilestarikan.

Merantau

Secara historis, mayoritas masyarakat Bawean adalah nelayan. Dari pekerjaan ini, jiwa mereka secara praktis adalah perantau, yang berhari-hari berlayar, kemudian pulang sambil membawa uang hasil penjualan ikan. Jiwa merantau dan berdagang ini menjadi turun-temurun dan menentukan garis hidup keturunan mereka juga. Setiap lelaki di pulau Bawean dirasa “wajib” untuk merantau, meski mereka telah menikah.

Orang Bawean di Singapura

Dalam artikel yang cukup komprehensif, The Baweanese (Boyanese), yang ditulis oleh Nor Afidah Abd Rahman dan Marsita Omar, sensus penduduk pertama kali mencatat adanya orang Bawean tahun 1849. Antara tahun 1901 – 1911, populasi orang Bawean di Singapura makin meningkat. Hal ini disebabkan oleh pajak yang terlampau tinggi yang dikenakan Belanda kepada inlander (penduduk asli) di Hindia Belanda (Indonesia sekarang). Di tahun-tahun itu, dicatat bahwa ada dua perusahaan transportasi yang melayani migrasi penduduk dari Bawean ke Singapura, yaitu Dutch Koninklijke Paketvaart Maatschappij (Belanda) dan Heap Eng Moh Shipping Company (Singapura). Populasi orang Bawean makin meningkat ketika pendudukan Jepang antara tahun 1942 – 1945 karena penjajahan ini menyebabkan kelaparan dan kemiskinan yang parah. Setelah 1945, arus masuk imigran diperketat di Singapura dan Malaysia. Sebagian orang Bawean berbelok ke Tanjung Pinang dan Riau.

Ketika Inggris membangun pacuan kuda tahun 1842, mereka menyewa orang-orang Bawean sebagai pekerja konstruksi untuk membangun Race Course lama, atau Turf City masa kini. Karena berbakat melatih kuda, orang Bawean akhirnya dipekerjakan sebagai pelatih kuda pacuan. Sebagian dari mereka tetap bekerja sebagai pelayar (seamen). Namun ada pula yang bekerja sebagai sopir untuk tuans dan mems, perawat kebun, pegawai pelabuhan dan sopir bullock-cart.

Antara tahun 1840an hingga 1950an, orang Bawean banyak yang bermukim di Kampong Boyan (kini bernama Kampong Kapor). Mereka membangun pondok (ponthuk, dalam bahasa Bawean) sebuah rumah yang digunakan untuk bersosialisasi dan tempat menampung pendatang Bawean yang baru. Komunitas ini dipimpin oleh Pak Lurah. Secara literal, Pak Lurah berarti kepala kampung atau kepala desa (the chief of the village). Istilah ini sekarang masih dipakai secara luas di Indonesia.

Banyak dari masyarakat Bawean di Singapura akhirnya menikah dengan etnis lain seperti Melayu, Jawa, Bugis dan lainnya. Peleburan ini menyebabkan identitas keturunan mereka secara praktis disebut “Melayu”. Namun, ada juga yang masih menggunakan garis etnis ayah, sehingga tetap beretnis “Boyan”. Seperti halnya keturunan Jawa di Singapura, sedikit sekali generasi muda Boyan yang menguasai bahasa Bawean, atau Madura. Sebagian dari mereka cukup mengenal beberapa kata, atau mengerti sedikit beberapa kalimat. Hal ini cukup wajar, mengingat bahasa Bawean tidak dipakai sehari-hari di sini.

Generasi tua keturunan Bawean di Singapura kadang masih mengunjungi sanak saudara di pulau Bawean. Namun, beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah artikel pribadi yang ditulis oleh generasi muda keturunan Bawean. Ia ingin sekali ke Bawean, meski hanya sekali seumur hidupnya. Sama halnya dengan bahasa, jika kultur Bawean ini mirip dengan Madura, maka setiap saudara itu adalah saudara dekat. Sehingga perlakuan mereka terhadap saudaranya (meski hubungannya jauh sekalipun) sangat-sangat akrab. Ini ciri khas orang Madura yang juga saya amati di pulau Jawa.

***

Disarikan dari berbagai sumber:

[1] http://www.bawean.info

[2] http://pulaubawean.blogspot.com/

[3] http://media-bawean.blogspot.com/

[4] http://www.thingsasian.com/stories-photos/1280

[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Bawean

[6] http://infopedia.nl.sg/articles/SIP_1069_2007-06-20.html

Comments Off

AAN

Posted in Planet Singapura, hari-hari Luki, articles, Workshops by ari3f on the April 12th, 2008

Clementi - 2003

Sebelum ke Singapura tanggal 19 Juli 2003, saya kenalan dengan seorang kawan (baru) lewat email. Sebut saja inisialnya AAN. Dia katanya baru pulang dari mondok di Australia, dan mampir ke Singapura, tepatnya di padepokan NUS, untuk studi Master yang ke-2 (master²). Ketika itu kami mencari kos-kosan bersama dekat kampus (sebenarnya yang nyariin dia sih, karena dia sudah di Singapura duluan). Saya lagi di Bandung, dan sibuk mindahin barang-barang dari kos-kosan di Cisitu ke rumah kakak & pacar di Jakarta. Akhirnya, dengan bantuan housing agent, yang namanya masih kami ingat yaitu Tan Man Lee, kami diantar ke Blok 335 di Clementi. Di sana, kami viewing rumah baru.

Kami memutuskan untuk menyewa master bedroom yang ada kamar mandi dalam. Rumahnya ada di lantai 6; dan lift hanya berhenti di lantai 1, 6 dan 11. Jadi, kami lumayan beruntung tidak perlu naik turun tangga. Flat ini estate lama; lokasinya dekat dengan MRT station Clementi (6 menit jalan kaki), jendela belakang terhalang pohon jadi agak sungup, dan ada seorang lelaki yang tidur di kamar lain, pacar pemilik rumah, namanya Bob (meski aslinya bernama Arab, yaitu Arba’a). Ada dua tempat tidur di kamar itu, ada 1 lemari pakaian, 1 meja belajar. Satu tempat tidur yang saya gunakan hanyalah matras setebal (awalnya) 15 cm. Tapi setelah 6 bulan, bagian tengah matras jadi 5 cm; jadi punggung agak dingin ketika malam tiba.

Malam hari sepulang dari kampus, kami biasanya nonton TV, ngobrol, minum coke atau kopi, ngrokok Gudang Garam. Dia sebenarnya bukan perokok; tapi karena saya rajin membeli GG di Clementi, maka dia ikutan ngrokok (di Jember ini disebut perokok pasif - artinya “njaluk rokok” hehe). Kini GG yang Internasional tidak ada lagi di Singapura; dilarang beredar sejak 2004. Extinct. Di depan rokok, TV dan kadang gitar, kami ngobrol soal macam-macam, terutama soal budaya, agama, politik, kehidupan dan topik favoritnya, “Australia”.

Pasir Panjang - 2004

Setelah 6 bulan di sana, kami pindah ke sebuah landed house di Pasir Panjang, namanya The Village. Di sana kami tinggal sekamar lagi. Tapi kali ini sekamar diisi 3 orang. Seorang lagi adalah anak Lumajang (alumni ITB) yang kuliah di NUS juga. Jadilah, tiga bujangan di pinggir galangan kapal, West Coast. Tiap malam, seperti ritual sebelumnya, kami mengadakan “meeting”. Meeting adalah ngobrol di beranda depan, dekat kolam renang, sambil ngopi, ngrokok dan main gitar. Obrolannya lebih bervariasi, tergantung partisipan dan ada beberapa housemate cewek yang ikut nimbrung.

Setelah 6 bulan, AAN pulang ke Bandung untuk kembali mengajar di almamaternya, UIN Bandung. Dia yang asli kuningan ini adalah dosen muda yang lebih banyak menghabiskan waktu belajar daripada mengajar. Ya gimana mau ngajar, kan selalu di LN untuk menuntut ilmu. Tapi dia tidak pernah lepas kontak dengan kawan-kawan dosen di sana. Dia juga bilang banyak adik kelasnya yang nyalip dia gara-gara lama gak balik ke kampus. Tapi tak apa. Jalan hidup kadang memang tak bisa diduga. Dia sendiri tidak punya impian ke LN sebelum lulus dari UIN, begitu katanya. Tapi menjelang lulus, keinginan ke LN itu muncul. Jadilah ia ke Australia sebelum ke Singapura.

Bukit Panjang - 2006 & 2008

AAN kembali ke Singapura tahun 2006. Kali ini ia mengambil PhD di bidang politik. Dan, ia membawa serta keluarganya. Dia menyewa flat di Bukit Panjang, beberapa blok dari tempat saya menyewa kamar. Setelah 1-1.5 tahun mereka sekeluarga pulang ke Kuningan. Setelah field work dan cuti hingga 9 bulan, ia kembali ke Singapura. Kebetulan akhirnya saya menyewa flat sendiri di Bukit Panjang, maka ia tinggal sebentar di sini. Setelah 7 bulan, ia pulang kampung ke Kuningan pagi tadi pukul 5.30. Ia tinggal menulis conclusion saja untuk thesisnya.

Remarks

Seperti halnya Gus Dur, Ulil, mereka yang dididik secara tradisional di pesantren kemudian terekspos risalah ilmiah dari Barat, biasanya memiliki pemikiran agama yang progresif, tidak jumud, fleksibel dan liberal. Demikian juga AAN. Maka, berdiskusi dengannya mengenai Islam progresif selalu membuahkan pandangan atau pengetahuan baru.

Saya sendiri tidak pernah dididik di pesantren. Dan, dulu agak ngeri kalau diancam akan dimasukkan pesantren waktu kecil. Tapi di pertengahan kuliah di Bandung, saya membaca banyak sekali buku-buku pemikiran Barat yang mudah didapat di toko-toko kecil dekat kampus. Buku-buku ini tentu saja tidak berguna untuk kuliah saya. Dan, saya sendiri selalu bingung kalau ditanya kenapa membaca buku-buku seperti itu (seperti Fyodor Dostoevsky, Gogol, Sartre, Foucoult, Nietzsche, Marx, Arkoun, Fazlurrahman, Hassan Hanafi, Geertz, Anne-Marie Schimmel, M Iqbal dll). Tidak ada tujuan kecuali ingin tahu ranah lain di bumi ini. Mereka tentu tidak berbicara non-sense, itu saja yang saya percaya. Kalau non-sense, kenapa buku-buku itu dibahas di universitas besar di dunia? Jadi, agak eklektik dan self-enrichment.

Belakangan, terasa sekali manfaatnya. Tanpa membaca buku-buku itu, barangkali saya tidak bisa nyambung dengan AAN. Buku-buku itu secara tidak langsung memberikan hal-hal berikut: (1) kecenderungan untuk terbuka kepada pemikiran baru; (2) memahami dengan lebih cepat fenomena yang non-mekanistik; (3) memahami mengapa komunitas bertindak ini itu; (4) kesempatan untuk menguji metode ilmiah di bidang sains ke bidang sosial; (5) lebih bisa masuk ke banyak kalangan yang non-teknik karena ada hal yang diobrolkan.

AAN dulunya studi hadits, lalu berekspansi ke jalur pemikiran politik dan Islam liberal. AAN adalah seseorang yang produktif dalam dunia jurnalistik. Tulisannya menghiasi koran-koran di Indonesia dan Singapura; dan lewat kenalan dia ini, saya bisa memasukkan artikel di koran Singapura. AAN Ia juga menunggu satu bukunya diterbitkan di Thailand, dan ini mengenai Islam. juga orang yang sederhana dan tidak ambisius. Ambisinya hanya dituangkan lewat jalur akademis dan pemikiran saja; meski ada juga profesor yang mengatakan tulisannya konservatif. AAN sangat ingin kembali ke Australia, entah untuk belajar lagi atau mengajar. Negeri ini sangat berkesan baginya. AAN sedang menantikan anak keduanya (yang katanya Made in Singapore - hehe and born elsewhere, probably). AAN adalah orang yang sering dipermudah jalannya oleh Tuhan meski dihadapkan pada berbagai masalah pelik.

Selamat jalan kawan … keep on writing.

Comments Off

Jatim Trip (2)

Posted in Planet Singapura, articles by ari3f on the February 13th, 2008

Dari Surabaya, kami menuju Batu, alias Mbatu kalau orang Jawa bilang. Tapi di antaranya, kami singgah di sentra industri kulit di Tanggulangin, ke Taman Safari II di Pandaan, lalu ke restoran HTS yang jual rawon di Lawang. Tanggulangin dan Lawang tidak ada fotonya. Kalau Taman Safari II, fotonya lebih banyak binatang dan lanskap daripada manusia.

Taman Safari II lebih luas dari Taman Safari I. Koleksinya barangkali lebih banyak, fasilitasnya lebih baru dan ada taman bermain yang luas. Bayarnya Rp 35000 per orang. Mahal juga ya … padahal hanya untuk melihat binatang! Waktu itu komentarnya: barangkali bisa lebih murah kalau kita naik motor. Ha ha. Ilang ndasmu kene saut macan!

picture-033.jpg

Hippo!

picture-028.jpg

Ezra mbayangin … wah enak sekali bisa bergelantungan seperti mereka. Orangutan mbatin: duh kapan bisa naik mobil, moto-moto dan nonton manusia dari jauh …

picture-019.jpg

Llama … jadi inget binatang ini di komik Tintin. Eh rujak cingur Surabaya enak gak ya pake cingur Llama??

Comments Off

Jatim Trip (1)

Posted in Planet Singapura, articles by ari3f on the February 12th, 2008

Ini postingan hasil liburan ke Jawa Timur minggu lalu. Tujuannya banyak: sowan sama orangtua, marani dulur-dulur, mamerin hometown ke anak (yg masih 19 bulan - mana ngerti ya?), menikmati makanan khas Jatim, reuni “mendadak” dengan kawan-kawan lama, memberikan istirahat kepada otak (tapi tubuh tidak). Laporan pandangan mata juga telah ditulis di blog ndoro Tutee. Kota-kota yang mendadak dikunjungi adalah Surabaya, Pandaan, Lawang, Malang, Batu, Blitar, Bondowoso, Jember dan Situbondo, dan dilakukan dalam 7 hari 6 malam non-stop! (Pantes badan serasa legrek kabeh!).

Lumpur Lapindo. Kami mendarat di Juanda pukul 8.45 pagi. Ortu sudah menjemput. Semua langsung meluncur ke Malang (rencananya), tapi mampir dulu di Sidoarjo, melihat (dengan hati pilu) perumahan yang sudah tertimbun lumpur Lapindo. Tapi beneran, lumpur ini benar-benar menghabisi rumah ribuan keluarga dan kompensasi yang turun baru 20%. Anyway, lumpur dibendung supaya tidak membludak ke jalan lagi, dan tidak menganggu spoor (jalur kereta) yang menghubungkan Surabaya - Banyuwangi. Begitu parkir, jukir (juru parkir) langsung meminta uang parkir sebesar Rp 5000. Ketika menyeberang jembatan kecil untuk naik ke gundukan tanah dan melihat lumpur, seseorang harus membayar Rp 2000.

Berikut foto-fotonya:

picture-006.jpg

Spanduk ini secara implisit mengatakan bahwa lumpur Lapindo tidak pernah selesai karena kemarahan dan pertengkaran dua kubu “yang-menyalahkan” dan “tak-mau-dikatakan-sepenuhnya-salah”

picture-009.jpg

Atap di tengah lumpur Lapindo

picture-013.jpg

Slow traffic menuju Sidoarjo (di belakang sana ada Gunung Semeru)

picture-015.jpg

Cocok jadi sampul film “Pacar ketinggalan kereta (lalu termangu di pinggir lumpur)”

Comments Off

Sekolah di ITB

Posted in Planet Singapura, articles by ari3f on the January 18th, 2008

Tahun 1998, seorang senior membahasakan ITB dengan: jika kamu ingin jadi apa saja, masuklah ITB. “Apa saja”? Sebenarnya tidak hanya ITB saja, semua sekolah pasti juga demikian. Kalau dilihat dari alumninya sih, memang beragam. Ada yang dulunya ambil jurusan Matematika dan Sipil lalu jadi seniman seperti Sujiwo Tedjo. Ada yang belajar elektro lalu jadi musisi seperti (alm) Harry Roesli. Ada yang belajar penerbangan lalu jadi politikus seperti Sri Bintang Pamungkas. Ada yang belajar seni rupa lalu jadi pelawak/entertainer seperti Amink (kalau ini kayaknya nyambung banget jurusannya hehe). Ada yang belajar Sipil lalu jadi penulis buku atau naskah film seperti Adithya Mulya. Yang patut diketahui, apa yang terjadi pada periode ketika mereka sekolah hingga “puncak” karir mereka itu. Pasti banyak dan bakalan panjang banget. ITB, sepanjang pengetahuan saya, memfasilitasi banyak hal:

(1) Lingkungan yang mendukung untuk jadi unik. Dalam keragaman suku yang tinggi di sana, semua orang jadi anonim, tak dikenal. Bagaimana caranya supaya dikenal? Like something different, be someone different, do something different. Free your mind.

(2) Dosen yang mendorong “kerja keras”. Banyak orang stress karena pekerjaan rumah, praktikum dan tugas itu bertumpuk-tumpuk; ditambah individualisme di ITB itu lumayan tinggi: setiap orang ada kecenderungan bekerja sendiri, karena mereka punya style sendiri dalam mengerjakan sesuatu, dan prime-time mereka juga berbeda. Stress adalah proses yang dilewati ketika tugas datang berlimpah. Dan kerja keras adalah satu cara menghindari stress. Tidak ada pilihan lain, kecuali kalau mau tidak lulus. Cara lain: banyak becanda dong! Ha ha …

(3) Ada yang bilang sebelum masuk ITB, bahwa iptek di ITB itu ketinggalan 30 tahun dari luar negeri. Ini salah; yang benar adalah 31 tahun. Haha. (ngarang). Ya siapa sih yang tahu teknologi suatu sekolah itu ketinggalan berapa tahun? Pasti ada benchmark-nya. Fasilitas komputasi tingkat tinggi (high performance computing)? Mungkin ada sih, tapi tidak besar. Coba dibandingkan universitas maju yang lain? Wah jauh sekali ketinggalannya. Yang tidak ketinggalan itu kemampuan dosennya. Dosen di ITB memfasilitasi mahasiswa untuk jadi orang mandiri. Mereka juga approachable, mudah didekati dan bersahabat. Ada juga yang killer, tapi hampir punah. Dosennya juga banyak pengetahuan, pandai bercerita dan lulusan universitas ternama (MIT, Imperial College, Caltech, TU Delft dan lainnya). Mereka juga pandai membuat semuanya jadi simple di muka kelas. Tapi ketika ujian, jangan harap simplisitas itu muncul (ha ha ha).

(4) Nama besar membuat orang lebih percaya diri. Sedikit banyak iya. Tapi tidak absolut. Karena seseorang akan dibuktikan lewat kemampuannya sendiri, bukan lewat nama besar, bukan lewat reputasi universitas. Dan kemampuan dialah yang membuatnya makin besar hati, makin percaya diri.

(5) Minimnya jumlah perempuan (cantik!). Perempuan biasanya memberikan estetika di lingkungan kampus. Mereka juga memberikan tambahan energi di pagi hari lewat wanginya dan wajahnya yang berseri. Karena estetika dan energi ini hanya 20% (sekarang mungkin lebih) maka setiap mahasiswa berkompetisi membuat atau mencari dua hal itu sendiri. Suka “berkompetisi” ini yang akhirnya membuat mahasiswa maju. (nyambung gak sih? ha ha ya ngarang lah).

Hal lain….silakan ditambahkan …

Btw, meski saya tidak tenar seperti nama-nama tokoh di atas, tapi setidaknya saya punya achievement yang saya banggakan: jadi ayah dan suami! :)

Comments Off

SF at glance

Posted in Planet Singapura, articles by ari3f on the November 16th, 2007

A

Comments Off

Shōnantō

Posted in Planet Singapura, articles by ari3f on the August 11th, 2007

Bukan, itu Shōnantō bukan nama Jawa, tapi kependekan dari Showa no jidai ni eta minami no shima (pemendekan dengan metode gimana ya?) alias pulau di selatan yang didapat di era Showa. Showa sendiri adalah nama kaisar Jepang. Selanjutnya bisa di baca di Wikipedia.

42 tahun silam (+ dua hari) Singapura merdeka dari Malaysia. 9 Agustus. Negeri yang disebut punya anomali antropologi (sebuah pulau yang dominan imigran China di antara “raksasa” Melayu) ini bisa mengatur dirinya sendiri. Dalam sebuah buku (lupa judulnya, tapi risalah serius seorang ahli politik-ekonomi Asia), Singapura adalah satu-satunya negeri di ekuator yang punya GDP tertinggi. Dalam hal kemakmuran, ia juga anomali. Titik merah ini agresif dalam ekspansi bisnis; ia juga punya kualitas layanan keuangan yang fleksibel sekaligus terpercaya; ia punya cita-cita besar; tapi ia juga diatur dengan sistem politik demokrasi terpimpin. “Demokrasi” ada karena ada kompetisi partai dan pemilu, “terpimpin” karena bak seorang raja yang infalibel, perdana menteri punya kuasa penuh atas segala aspek Singapura. Presiden hanyalah simbol. Yang lebih aneh lagi: ada tiga perdana menteri di pulau berpenduduk 4.5 juta ini (perdana menteri, menteri senior dan guru menteri). Peran ketiganya sama, yaitu mengatur negara, dan punya wilayah otoritas sendiri. Jangan belajar politik di Singapura karena tak menarik.

sn-map.gif

Dua hari lalu ada National Day Parade. Suatu peringatan besar-besaran. Di teluk Marina itu, merah di mana-mana. Saya tak menonton karena fobia keramaian (halah!). Tidak ada yang istimewa, kecuali bahwa ini (katanya) pesta kemerdekaan terbesar dalam sejarah Singapura. Tapi teman saya mengutip LKY: setiap kembang api yang meledak selalu diiringi bau uang yang terbakar (begitu parafrasenya). Dan uang itu … juga uang rakyat, yang bulan lalu terkena kenaikan pajak jadi 7%.

Selamat ulang tahun Singapura. Kamu boleh mati setelah aku mati.

Comments Off
Older Posts »