Planet Singapura


Kala Uang Kurang Berarti

Posted in Hikmah, kehidupan, think by Blogger on the March 8th, 2014
Awal September saya pulang kampuang untuk waktu yang teramat singkat, kurang dari tiga hari. Tiba Sabtu siang jam 3 dan sudah harus berangkat kembali Senin pagi jam 8. Hanya untuk menjemput Elwis dan DuoS kembali ke Singapura. Tak banyak waktu kosong, apalagi sudah beberapa minggu tak kumpul dengan keluarga, pastinya ingin melepas rasa rindu di rumah sj :-) Sampai Sabtu sore itupun, DuoS masih agak bingung bertemu saya. Shalih agak berani mesti senyum nya masih ditahan dan harus dipeluk agar mau duduk di pangkuan. Sementara uni Shalihah, masih khawatir bahkan untuk bertatap wajah dan membalas senyuman. ...

Memang ini bahaya long distance relationship (LDR) dengan bayi kurang dua tahun ... bisa cepat lupa mereka he ...he..

*****

Minggu pagi saya bilang ke Elwis akan pergi bercukur rambut. Langganan biasa di Pasar Ateh Bukittinggi. Namun siang itu langit mendung dan saya agak malas ke sana karena agak jauh. Sejam dua jam bakal habis. Bimbang antara pergi ke tempat biasa di Pasar Ateh atau cukup pangkas di pasar Padang Luar yang lebih dekat dari rumah. Saya belum pernah bercukur sebelumnya di Padang Luar ini. Berbekal hanya "kata orang ada kedai cukur di sana" dan pernah sekilas melihat kedai-kedai kecil tsb dari atas kendaraan, akhirnya saya putuskan ke Padang Luar.

Ada tiga kedai di sana dengan lokasi yang berpencaran, mulailah saya survei satu persatu. Karena itu hari Minggu, antrian panjang di dua kedai pertama, mungkin ada empat hingga lima orang yang menanti giliran. Mulai hati bergetar, " ... coba saja tadi ke Pasar Ateh, servisnya sudah saya kenal, antrinya pendek karena tukang pangkas lebih banyak. Tanpa mau menuruti kegalauan hati, saya tempuh kedai terakhir yaitu kedai ketiga yang lebih dekat ke tepi jalan raya Padang-Bukittinggi yang ramai kendaraan itu. Ternyata hanya ada tiga orang di sana: tukang pangkas, seorang yang sedang dilayani, dan seorang kakek yg sedang duduk di kursi panjang. Belakangan saya tahu rupanya kakek tsb hanya menumpang duduk di sana. Kesimpulannya, hanya perlu menanti satu pelanggan saja :-)

Yes, dalam hati, tak pakai lama nih.

Saya duduk di kursi papan panjang lain berhampiran dengan kursi sang kakek. Tersenyum dan menyapa secukupnya. Saya periksa saku celana dan kemeja, waduh HP tak terbawa. Hmmm ... surat kabar pun tak ada di dalam kedai sempit beratap triplek rendah berukuran 2x4 meter itu. Langit mendung kini sudah menitiskan titik-titik air di luar. Mobil, motor, bus, dan truk berat bergantian lewat menggetarkan kedai berdinding papan yang saya baru sadar hanya beralaskan semen dan ditutup terpal plastik tipis seadanya itu.

Hanya ada dua kursi bercukur dengan kualitas apa adanya di sana sementara tukang cukurnya hanya seorang. Ia terlihat mahir bekerja. Cermin kaca lebar ada di depan dan ada juga di atas dinding belakang (tipikal kedai cukur). Sound system (cd/vcd) dengan pengeras suara besar hitam tampak di samping meja cukur. Atap kedai dari seng dan tripleks yang di beberapa tempat banyak bolong dan tampak sudah sering terkena rembesan bocor. Bocor juga merembes ke dinding kedai yg terbuat dari papan sehingga sisa-sisa air menghitamkan pojok-pojok yang dilalui ulah kebocoran itu. Di lantai berserakan rambut-rambut sisa potong pelanggan dan ada satu papan nama "kuno" yang sudah tak terpakai tergeletak di pojokan dekat pintu masuk.

Alat-alat yg dipakai sederhana khas kedai cukur pinggir jalan. Entah mengapa tiba-tiba saya merasa geli untuk meneruskan bercukur disana dengan alasan alat-alat yang dipakai kurang higienis (jangan bilang untuk standar Singapura yah he...he..). Sensor cela ...

Haha... rezeki tukang cukur yg memang harus saya antar siang itu. Can not be missed ! Uang mungkin ada berlebih di dompet dan sanggup membayar layanan di tempat yg jauh lebih baik. Namun uang banyak itu tak berarti. Di luar hujan, hari sudah siang, dan saya tak mau kehilangan banyak waktu. Padang Luar - Bukittinggi di hari Minggu terkenal akan macet dan taksi adalah barang langka di sini. Pasrah ... berdoa untuk dapat hasil cukur terbaik. Alhamdulillah selesai juga dengan kualitas yg baik dan selembar sepuluh ribuan lusuh berpindah tangan. Urusan bersih-bersih dapat dilanjutkan di rumah nanti dengan mandi :-)

*****

Itulah yg terbaik bagi saya saat itu. Tak perlu komplen, mission accomplished alias tugas selesai. Itulah rezeki yg kadang lupa saya syukuri. Mungkin saya punya ekspektasi terlalu tinggi karena faktor umur, pendidikan, lingkungan tempat tinggal, keuangan dll ... namun manusia hanya berencana, berikhtiar, dan Allah Swt yg mencampur semua parameter tadi menjadi sebuah hasil yg harus saya terima pada detik itu dan tempat tersebut.

Masih untung masih ada tukang cukur. Seandainya ada berlembar seratus ribuan di dompet pun tak kan berguna jika saya tak bertemu kedai cukur yang dapat melayani saya saat itu juga dan bukan satu atau dua jam kemudian. Kebutuhan saya terpenuhi. Tak heran di kala barang langka, orang-orang rela membayar berkali lipat harga sebuah barang untuk mendapatkannya. Berapapun dibayar asalkan barang itu ia dapat.

Bersyukurlah jika tak harus bertemu kondisi itu terlampau sering :-) Musim kemarau panjang sehingga sukar diperoleh sayur-sayuran dan buah-buahan. Musim hujan dan badai sehingga nelayan enggan ke laut sehingga harga seafood meroket bahkan tak ada stok. Hari raya China membuat udang dan daun bawang menghilang di pasar. Hujan tak turun berbulan-bulan sehingga bekalan air terpaksa dikurangi atau penyalaan listrik bergilir yg disebabkan level air di PLTA merosot di musim kering.



Comments Off

Segmen pasar seorang da’i

Posted in Hikmah, Islam, think by Blogger on the October 29th, 2013
Dulu saya pernah menulis tentang upaya orang awam belajar agama Islam dan di sisi lain perlunya strategi yang tepat bagi seorang da'i dalam menjemput bola target dakwah yg dibidiknya. Awal bulan ini tiba-tiba seorang sahabat menuliskan status di dinding FB nya, "Ada seorang dai, kemana-mana naik mobil mewah, jam tangan mahal berhias berlian, sepatu dan jas jutaan rupiah. Menurutmu pantaskah dia berbicara tentang Umar yang kuat tapi sederhana ?" (Okt 10). Argumen beliau, dengan penampilan tersebut dakwah di kalangan bawah apakah kira-kira omongannya akan didengar. Sebagaimana Rasulullah Saw yg selalu tampil sederhana meskipun ia bisa tampil kaya raya jika mau.

Lalu saya berkomentar: Saat sang da'i memakai semua perhiasan dunia tsb, dia akan berdakwah di kalangan tsb. Topiknya mungkin bukan hidup sederhana, namun bagaimana membangun kejayaan ekonomi, penguasaan sumber finansial, penguasaan pasar, media, punya rumah sakit canggih dll yg selama ini dinikmati oleh mereka yg (maaf) belum muslim. Atau topik lain yg sudah pasti ... infaq, zakat, kontribusi orang kaya ke orang miskin, dll.

Di saat ia (terpaksa atau dipaksa) berdakwah ke kampung yg terbelakang scr ekonomi, maka ia perlu melepas sebagian perhiasan dunia tadi utk berbicara dgn bahasa kaum tsb. Mengapa terpaksa ... karena IMHO (sebaiknya) ada da'i lain yg memang punya segmen pasar di sana. Tidak semua da'i harus punya global market, ada juga yg pasar nya spesifik karena ia punya keahlian khusus di sana... market ABG, market seleb, anggota parlemen, saudagar, napi, mantan copet, drug abuser dll. Dalam hal ini tak ada yang mampu menandingi keahlian Rasulullah Saw yg mampu berdakwah di segmen apa saja.

Semua punya andil dan spesialisasi. Penonton tak perlu banyak komentar krn penonton tak pernah tahu berapa orang di segmen khusus tsb yg sudah berhasil jadi lebih Islami krn da'i profesional tsb. Tidak melulu orang miskin yg perlu tercerahkan dan hidup lebih Islami, semua kalangan berhak.

Sesama supir metromini dilarang saling mendahului :-)

Alhamdulillah seyogyanya di mana pun sang dai berada, ada batasan-batasan kepantasan yg wajib dipenuhi agar pesan yg ingin disampaikan dapat diserap dengan baik oleh jama'ah.
Comments Off

Lampu 5 Watt Serasa 25 Watt

Posted in Hikmah, kehidupan by Blogger on the May 3rd, 2012
Di dekat salahsatu pintu ruangan kantor ada toilet untuk pengguna kursi roda seperti yg pernah diceritakan di sini. Hingga hari ini toilet ini relatif bersih dan ramai pengunjung setianya. Sayang, sudah beberapa hari sejak minggu lalu lampu di dalam toilet ini bertukar gaya menjadi lampu disko jika dinyalakan ... kedap kedip. Pertama kali saya sadar hari Jumat siang, krn terburu-buru utk pergi ke luar, saya diamkan saja. Pasrah gelap-gelapan, remang macam disko saat BAK, mata pun perlu dipejamkan agar tak sakit mengikuti irama kedap-kedip nya yg cepat dan menyilaukan :-(

Akhir pekan pun lewat, masuk hari Senin, Selasa hari buruh libur lagi. Rabu masuk kantor ternyata kondisi tak membaik. Padahal apa susahnya melaporkan kejadian ini. Saya melihat petugas kebersihan toilet (janitor) tiap tiga jam mendatangi toilet ini namun sptnya ia pun tak melapor. Ia tentu berpikir lampu toilet rusak itu bukan
bagian checklist pekerjaannya. Sementara pemakai lain pastinya "kapok" bertandang ke sana krn lampu rusak tsb. Hmm ... entah apa istilahnya, bystander effect, biarkan orang lain yg melapor, EGP ... Sementara bagi saya itu toilet favorit krn bisa bersuci dan berwudhu dengan lebih nyaman di dalam. Bukan mau riya, akhirnya saya inisiatif menelepon 3998 bagian facility (maintenance gedung). Saya coba ingat ini mgkn kejadian yg kedua setelah sebelumnya ada kejadian sama tanpa ada yg melapor jg. Padahal betapa mudahnya menelepon, telp gratis ada di dekat toilet, nomornya pun dipajang di tiap pintu masuk kantor !

Kalau tak salah saya melapor usai shalat Zuhur. Saat ingin wudhu utk shalat Ashr ternyata lampu sudah diganti alhamdulillah. Cepat kan ! Ini Singapura dan kantor sudah bayar mahal kepada pengelola gedung. Nomor telepon bagian fasilitas ditempel dimana-mana bukan tanpa makna :-)

********



Indonesia dan China
Masih soal lampu. Di malam hari kadang-kadang kami pakai lampu kecil di kala tidur. Entah sudah berapa lama umur bola lampu yg terpasang di sana. Cukup terang dan tak silau di malam hari, kalau tak salah hanya lima watt daya nya. Dua hari yang lalu bola lampu tsb putus dan baru sempat tadi pagi mencari gantinya. Cari punya cari tidak bertemu bolam lima watt tsb. Yang ada bolam hemat energi lima watt atau bolam biasa dgn daya minimum 25 watt. Wah boros sekali dan bakalan panas kamar tidur kalau harus menyalakan bolam 25 watt.

Apa mau coba teknologi hemat energi, diklaim hingga 80% hemat krn dengan memakai daya lima watt menghasilkan cahaya terang setara bolam 25 watt. Benar-benar 80% penghematan seperti tertulis di bungkusnya. Hebatnya lagi bolam ini punya umur 6000 jam (asumsi saya ini nonstop) yang setara dengan 3 tahun tulis di bungkusnya (3 x 365 x 5.4 jam) alias pemakaian 5-6 jam sehari. Hmm pilih mana ya ? Dari sisi harga bolam biasa (MADE IN INDONESIA) ini hanya 90 sen harganya dan bolam hemat energi (MADE IN CHINA) adalah $6 alias lebih dari enam kali lipatnya. Sebenarnya kami tak perlu 25 watt, tapi inilah ukuran paling kecil yg dijual di sana he..he.. Mau tunggu toko-toko kelontong di luar belum buka jam 8 pagi begini. Seingat saya bolam biasa 5 watt juga harganya sekitar satu dollar (ah sami mawon).

Akhirnya saya putuskan beli bolam hemat energi. Terangnya sih tak seberapa, maklumlah ini memakai teknologi neon jg. Namun "katanya" lebih tahan lama dan lebih hemat utk terang yg sama (mis. 25 watt). Sambil membandingkan keduanya saya teringat mengapa bolam hemat energi tidak dibuat di Indonesia juga ? Apa kita hanya jadi tempat membuat barang murah ?
Comments Off

Mencegah Aib dengan Ikhlas

Posted in Hikmah, Islam by Blogger on the September 20th, 2011
Pesan yang sering disampaikan ustadz Aa Gym bagi jamaah, salahsatunya agar manusia perlu senantiasa bersyukur kepada Allah SWT yg telah menutupi aib-aib nya. Tak bisa dipungkiri bahwa orang-orang masih menyapa saya dengan tersenyum, wajah masih dapat tegak dihadapan anak-anak, istri dan ortu, dan kata-kata kita masih didengar teman-teman, semata-mata karena Allah SWT masih menutupi aib-aib kita. 

Tanpa disadari begitu banyak aib yg telah menempel (tagged) pada seseorang sejak lahir. Baik aib besar yg dapat membuat malu jika itu terekspos ke luar seperti sifat, cacat fisik, kesehatan, perilaku maksiat/dosa di waktu silam, ataupun aib-aib kecil yg akan  membuat pelaku tak nyaman (bilamana ia sadar) misalnya ada nasi lengket di pipi sehabis makan, kotoran di *area* wajah yg begitu jelas, memakai celana robek, ritssluiting celana lupa dipasang, kancing baju yg lupa/copot, terlelap dlm rapat, HP yg lupa di silent saat shalat berjamaah, lupa menyiram toiet setelah dipakai (flush), tak sengaja berada pada lokasi yg salah pada waktu yg salah dll.

Khusus aib besar tentu secara sadar dan semampu mungkin akan diupayakan menutupinya. Namun bagaimana dengan aib kecil ? Aib kecil muncul tak sengaja, di tengah lelah, kala keruwetan pikiran/ perasaan melanda, tempat yg baru/ramai, saat terburu-buru, disibukkan oleh anak yg menangis, dll. Sebagaimana ditulis di awal, Allah Maha Pengasih pada hamba Nya, sehingga hamba tsb *diselamatkan* dari aib-aib tsb. Seberapa besar keselamatan yg diberikan itu tentunya ditentukan pula oleh faktor kedekatan seseorang pada Pencipta Nya.  Apalagi jika seseorang rajin berdoa mohon ampunan dan perlindungan dari Allah SWT atas segala khilaf, kata, dan lakunya, baik yg disengaja ataupun tidak. Namun ada jg orang yg secara sadar justru *menikmati* mengumbar aib besar ataupun kecil di hadapan orang ramai (naudzubillah min dzaliik). Bukannya ditutupi malahan di ekspose agar menjadi trademark baginya. Nah tipe yg ini bagaimana mau diselamatkan ? Banyak contoh di negeri kita dimana kisah kelam masa lampau yg tiba-tiba mencuat oleh wartawan, lawan politik, mantan kawan, yg mengganjal kesuksesan atau menghancurkan karir seseorang yg sedang terang benderang di masa hidupnya.

DarulAman_eunos_2010
Terlepas dari sifat rahman Allah yg mengayomi setiap manusia di bumi, bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim saat melihat/mengetahui seseorang di dekat kita yg sedang tak sadar bakal atau terlanjur *tertempel* aib ini ? Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: " ...Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. ... " (HR Bukhari, Muslim). Itulah sikap yg disunnahkan. Sebagai tindakan preventif, mulai sekarang janganlah ragu utk mengingatkan mereka yg tanpa sadar bakal *memancing* aib bagi diri, keluarga, atau komunitas nya. Ingatkan ia yg lupa membersihkan giginya sesudah makan, lupa mengancing celananya, mematikan HP sebelum shalat berjama'ah, jaywalking, buang sampah sembarangan, berencana pergi ke tempat yg tak baik, tak perlu mengungkit kejelekannya di saat ia berjanji utk menjadi hamba Nya yg benar dll. Setelah kita peringatkan atau tutupi aib nya (mgkn sudah terjadi), jangan pula kita jadi aktor gunjing dengan menyebarkan cerita kepahlawanan kesana kemari, karena Allah SWT mengibaratkan ghibah (membicarakan kejelekan atau aib orang lain atau menyebut masalah orang lain yang tidak disukainya, sekalipun hal tersebut benar-benar terjadi) dengan “memakan daging mayat saudara sendiri” (Q.S. al-Hujurat:12). Jadilah pencegah aib yg ikhlas, semata-mata engkau cinta saudaramu karena Allah.

Semoga Allah memberi petunjuk dan kekuatan agar kita mampu saling menutupi aib (tentunya dengan memperingatkan/ menasehati pelakunya dengan baik/lemah lembut) dan agar Allah menjaga diri dan keluarga kita dari aib di masa kini dan masa datang. Amiin.

Bacaan lain yg cukup bagus, disini.

Comments Off

Tim Panjat Pinang

Posted in Hikmah by Blogger on the August 17th, 2011
17 Agustusan di tanah air selalu marak dengan atraksi panjat pinang. Mungkin tak seramai dahulu karena banyak tanah lapang yang sudah dipangkas jadi hunian manusia. Selalu berlumur oli, selalu ada new comer yg hanya modal nekad, dan selalu menjadi hiburan yg ramai. Daerah sepanjang kali Malang Jakarta sptnya jadi saksi sejarah tiap tahun. Khusus di tahun ini situs Google pun menjadikan tradisi ini di logo mereka hari ini.

Panjat pinang dapat menjadi refleksi perjuangan manusia sebagai mahluk sosial terbaik yg diciptakan Tuhan. Semangat, kerjasama, punya strategi dan tak mudah menyerah untuk mencapai hasil yang diincar. Tiap anggota tim rela berkorban panas berlumur oli, siap menginjak dan diinjak untuk satu tujuan, sportif, dan percaya bahwa nanti akan ada bagi hasil yg adil. Tak ada yg marah saat harus diinjak, siap gagal, dan tertawa dengan pembagian hadiah (yang) mungkin tak seberapa nilainya. Satu-satunya sifat yang patut dihindari adalah senang melihat orang lain gagal. Biasalah, ada juga yg tak senang jika tim lawan berhasil meraup seluruh hadiah di atas tadi.

Panjat terus namun tetap waspada. Semakin ke atas pemandangan semakin menarik, hadiah seolah begitu dekat diraih, namun angin sepoi-sepoi dapat melenakan dan pinang di bagian atas lebih licin karena di bagian itu belum banyak dipeluk orang. Rekan-rekan di bawah pun terus berdoa dan berharap agar si petarung teratas terus mendaki meraih hadiah. Syukuri tiap posisi baru yg diraih dan kawal dgn sabar agar tak terburu-buru membuat hilang keseimbangan. Semakin tinggi memang semakin indah pemandangan, namun jatuh pun lebih terasa sakit gan ... :-)

Comments Off

Jangan Berharap pada Mahluk

Posted in Hikmah, Islam, buku by Blogger on the July 14th, 2011
Membaca buku ini untuk kesekian kalinya, mungkin sudah ketiga atau keempat. Awalnya Papa membelikan saat saya kelas 5 SD berbarengan dengan dua buku roman berat lain, Siti Nurbaya dan Salah Asuhan. Di usia itu hanya beberapa puluh halaman depan saja yang terbaca, tak lebih, karena memang kisah surat menyurat percintaan yang sarat pelajaran hidup ini bukan konsumsi anak-anak dibawah 17th :-) Selanjutnya dibuka kembali waktu mendapat tugas pelajaran bahasa Indonesia di kelas 1 atau 2 SMA, kami diwajibkan membuat satu resensi karya sastra angkatan tua ... karena buku ini ada di rumah, dan hanya saya yg punya saat itu, pilih ini saja untuk disimak. Akhirnya bertemu lagi buku ini di Singapura. Sekali baca sampai tuntas beberapa tahun lalu. Dan minggu ini kembali saya tuntas membacanya :-)

Dan saat ini lebih serius dan mendalam.

Masalah yg berawal ringan saja namun karena bersinggungan dengan adat turun temurun yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan maka kisah tragis ini pun terjadi. Saya pun menyelami satu hal yg bukan baru di telinga semacam peraturan penggunaan harta pusaka (harta pusako tinggi, yg bukan hasil pencarian orang tua kita, melainkan sudah turun temurun sejak entah bbrp generasi terdahulu). Seperti yang diangkat penulis Buya Hamka: karena menurut pepatah Minangkabau, harta pusaka tak boleh diusik dan digaduh, melainkan jika bertemu sebab yang empat perkara: "Rumah gadang ketirisan, adat pusaka tak berdiri, mayat terbujur di tengah rumah, gadis gedang berlum berlaki". Kalau bertemu sebab yang empat itu, maka "tak kayu jenjang dikeping, tak emas bungkal diasah" (artinya apapun akan dilakukan agar maksud untuk menegakkan yang empat itu tercapai).

*********

Sedikitnya ada tiga pelajaran yang saya ambil dari karya gemilang ini

(1) Mensyukuri nikmat yang ada: apapun, dimanapun, kapanpun

Nikmat Ilahi ada di sekeliling tiap-tiap insan, ada di dusun, ada di kota, ada di gunung, dan ada di lurah, ada di daratan, dan ada di lautan. Tetapi nafsu tiada merasa puas, atau tidak ingat nikmat yang di kelilingnya itu; dia hanya melihat kekurangannya. Yang senantiasa diperhatikannya ialah nikmat yang ada di tempat lain, dan yang di tangan orang lain. Kelak kalau dia ada kesempatan pindah ke tempat yang dilihatnya itu, dia menyesal dan dia teringat pulang, yaitu pada hari yang tiada bergunanya padanya penjelasan lagi ..."

(2) Jangan pernah berharap 100% pada manusia

Berharaplah seutuhnya kepada Allah. Umur, rezeki, jodoh adalah kehendak Allah. Percaya pada kata, janji, dan ikhtiar manusia tetap diperlukan dalam menjalani hablum-minan-naas (mu'amalah, bergaul sesama manusia sebagai mahluk sosial) namun bukan sepenuhnya. Manusia di sini mewakili benda-benda "bertitel" mahluk, baik itu yg bernama sistem, lembaga, kebijaksanaan, kekayaan, ketenaran, jabatan dll. Bersiaplah untuk kecewa bilamana kita mengambil mahluk sebagai tempat berharap dan jelas ini dosa yg tak terampuni alias SYIRIK !!!.

(3) Jadilah orang yang pemaaf

Janga pernah terlambat atau hilang kesempatan memberikan maaf pada saat pertama peluang itu datang. Yang ada hanyalah *terlambat* dan tidak pernah ada *terlalu cepat* untuk meminta maaf. Ingatlah, "damage has been done, so it is time to save the boat". Allah Maha Pemaaf dan Ia suka bilamana sifat ini pun melekat baik pada mahluk Nya.

Hingga pada akhirnya kita menjadi insan yang kuat dan dilindungi dari perasaan sedih atau susah dalam kehidupan ini (La Tahzan inna Allaha ma'ana)

Apa sebab hati akan dibiarkan bersedih dan bersusah di alam ini ? Padahal lapangan kemuliaan dan perasaan bahagia terbuka buat semua orang ! Orang yang bercela di dalam dunia ini hanya bertiga saja.

Pertama orang dengki, yang selalu merasa sakit hati melihat orang diberi Allah nilmat. Kesakitan hatinya itulah yang menyebabkan dia celaka, padahal nikmat Allah tak dapat dihapuskan oleh tangan manusia.

Kedua orang yang tamak dan loba, yang senantiasa merasa belum cukup dengan apa yang telah ada dalam tangannya, selalu menyesal, mengomel, padahal yang akan didapatnya tidak akan lebih daripada yang telah ditentukan Allah dalam kodrat-Nya.

Ketiga orang berdosa yang terlepas dari tangan hakim, karena pencurian atau permbunuhan, karena memperkosa anak bini orang. Orang yang begini, meskipun terlepas dari jaringan undang-undang, tidak juga akan merasai nikmat sedikitpun kemana jua dia pergi. Kesalahan dan tangannya yang berdarah selalu terbayang-bayang di ruangan matanya. Polisi serasa-rasa mengajarnya juga. DImana orang berbisik-bisik, disangkakannya memperkatakan hendak menangkapnya juga.

Comments Off

Murid Mendatangi Guru … itu Adab nya

Posted in Hikmah, Islam by Blogger on the July 13th, 2011
Suatu saat khalifah Harun al-Rasyid pernah meminta Imam Malik untuk mendatangi kediaman beliau, agar anak-anak khalifah dapat mendengar kitab al-Muwattha langsung dari penyusunnya (Imam Malik). Dengan tegas Imam mengatakan "Semoga Allah menjayakan amirul mu'minin. Ilmu itu datang dari lingkungan kalian (baytun nubuwwah). Jika kalian memuliakannya, ia jadi mulia. Jika kalian merendahkannya, ia jadi hina. Ilmu itu harus didatangi, bukan mendatangi."


Dalam kisah lain tentang kegigihan Abdullah ibn Abbas dlm mengejar sumber ilmu. Ia biasa bersabar menunggu para sahabat pulang dari kerja keseharian atau dakwahnya. Bahkan kalau sahabat tadi kebetulan sedang berisitirahat, ibn Abbas dengan sabar menanti di depan pintu rumahnya, hingga tertidur, tergolek beralaskan pakaiannya. Tentu saja para sahabat terkejut menemui ibn Abbas tertidur di muka rumahnya, "Oh keponakan Rasulullah, ada apa gerangan? Kenapa tidak kami saja yang datang menemuimu, bila engkau ada keperluan? "Tidak," kata ibn Abbas, " sayalah yang harus datang menemui anda."

Comments Off

Paspor Basah

Posted in Hikmah, jelajah by Blogger on the June 27th, 2011
Namanya musibah orang bepergian jauh itu macam-macam. Ada yg kelupaan perkakas tempur, telat krn macet, delay/batal berangkat, bermasalah di imigrasi, hingga yg ekstrem macam kapal karam atau hidung pesawat mencium tanah. Jika dalam dua bulan ini banyak WNI yg tinggal di luar negeri memaki petugas imigrasi karena tertahan KTKLN, alhamdulillaah kami "dimuluskan" jalan oleh mereka, meski perkakas sakti yaitu paspor kami is not in the good shape. Paspor berlogo garuda bungkus hijau itu memang acap menimbulkan masalah di luar negeri sehingga banyak yg mengganti bungkus luar atau logo nya sekalian :-) Mungkin petugas imigrasi di luar negeri itu tak percaya koq orang Indonesia bisa sampai ke negeri mereka he..he..

Paspor kami basah, tersiram botol air yang tak tertutup rapat di dalam tas akhir tahun lalu. Akibatnya coretan paraf Pak Kabul yg bertinta hijau itu luntur tinggal bayangan hijau saja. Stempel-stempel cap imigrasi pun ikut menjadi pelangi warnanya mengikut rembesan air di tiap halaman.

Sekurang2 nya ada tiga embarkasi yang membantu kami dengan *catatan* "Pak, nanti paspor nya segera diganti ya, malu kita nanti". Atau "Ini paspor rusak, coba Bapak bertemu pimpinan kami di kantor, saya tak berani beri izin keberangkatan".

Alhamdulillaah pihak imigrasi Indonesia mau membantu (tanpa tanda kutip nih). Kepala dan hati perlu tetap
cool, mencoba berargumen dgn rasional krn kami yg salah, dan tidak menyengaja check-in "last minute" yg jelas membuat adrenalin emosi meningkat eksponensial.

Yang paling berkesan baru saja minggu lalu saat kami menikmati kota kecil yg indah bernama Tanjung Pinang. Baru tiba dari feri, diajak masuk kantor. Tiga hari kemudian saat mau keluar, masuk kantor lagi. Saya buang jauh-jauh imajinasi negatif tentang aparat imigrasi karena memang selama ini hampir tak ada masalah dengan mereka. Waktu memang terbuang sekitar 30 menitan krn petugas cap imigrasi tak berani ambil keputusan hingga harus lapor ke atasannya, dan atasannya perlu bertemu lagi dengan
supervisor nya, gara2 paspor basah ini. Malahan si pak supervisor tadi ceritanya perlu konfirmasi lagi ke Singapura. Sabar ilmunya, menjadi good gentleman aja lah. Selesai jg urusannya, izin masuk keluar diperoleh, jabat erat, malah pakai dikawal juga untuk kelancaran urusan :-)

Jelaslah husnudzan tiap saat itu perlu. Hindari emosi dan coba ikuti protokol mereka. Yang saya tangkap dari petugas2 di lapangan ini adalah mereka takut untuk mengambil keputusan krn menghindari diperkarakan di kemudian hari. Mereka khawatir apabila kami ditolak masuk di negara tujuan dan akhirnya dipulangkan, nah nanti diusut siapa yg memberi cap/paraf. Padahal di negara tujuan, hal-hal semacam ini tak terlampau diperhatikan karena mereka lebih peduli pada visa dan lembar identitas
(yg tak ikut2 an basah) dan tak begitu peduli siapa yang menandatangani paspor atau stempel2 imigrasi sebelumnya.

Well done sir, keep up good service !

Apa ada yg punya pengalaman sama ? Apa buku yg basah ini perlu ganti baru, apa cukup ditandatangan ulang saja ?

*sebagaimana pernah ditulis di milis Imas
Comments Off

Lensa Mata

Posted in Hikmah, Islam by Blogger on the April 12th, 2011
Dalam sebuah tulisan menyambut Saung Istiqamah hari Ahad 10 April 2011, yang bertemakan Islam itu Indah, seorang kawan menuliskan apa saja yang indah dalam pandangan manusia, bersumberkan Surat Ali Imran ayat 14 hingga 17.

Dalam 3:14 disebutkan bahwa dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu:
- wanita
- anak-anak
- harta yang banyak dari jenis:
- emas
- perak
- kuda pilihan
- binatang ternak
- sawah ladang

Kemudian disebutkan ada yang lebih baik daripada itu semua yaitu surga yang dijanjikan Allah SWT untuk orang-orang yang bertaqwa (3:15).

Dan juga disebutkan juga ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah mereka:
  • yang berdoa "ya Tuhan kami sesungguhnya kami beriman kepadaMu, maka ampunilah
  • dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka".
  • yang sabar (dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan hal yang diharamkan)
  • yang benar (yang percaya kepada apa yang diberitakan atas landasan keimanan)
  • yang tetap taat (selalu dalam ketaatan)
  • yang menafkahkan hartanya
  • yang memohon ampun di waktu sahur

Merupakan hal yang wajar jika seorang laki-laki berani berkorban untuk mendapatkan wanita pujaan hatinya. Bukanlah hal yang aneh jika orang tua membanggakan anaknya, dan melakukan segala hal yang terbaik untuk masa depan anaknya. Tidak aneh pula banyak yang berusaha sekeras-kerasnya, dari pagi sampai pagi lagi, banting tulang dan peras keringat untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Karena ketika sesuatu tampak indah, maka sesulit apa pun jalan untuk meraihnya akan tetap ditempuh dengan semangat pantang menyerah.

****************

Menelaah kembali ayat 3:14 di atas, perhatikan pemilihan kata-kata yg tersusun:
"... dijadikan indah pada pandangan manusia ..."

Suka atau tidak, sadar atau tanpa sadar, sebenarnya apa2 yg kita pandang atau lihat, persepsinya adalah semata-mata disebabkan atas rahmat Allah SWT. Mustahil kita bisa menilai sesuatu itu indah, jelek, menyedihkan, menggelikan, menakjubkan, dll tanpa adanya hidayah baik lewat fitrah atau ilmu yg dipinjamkan Allah kepada kita.

Saya melihat keagungan susunan kata2 dalam 3:14 tsb. Saya memahaminya bhw tiap manusia yg terlahir di muka bumi sudah dibekali "lensa mata" yg sehat. Seumpama lensa kacamata, Allah Maha Kuasa mengatur setting +plus+ atau -minus- lensa ini. Tiap lensa mata bayi yg lahir sudah diset ke mode fitrah (default, 0/0) dan lensa ini pada saatnya kelak akan memandang indah hal2 yg disebutkan dalam 3:14 tadi. Sementara itu Allah juga menurunkan manual yaitu al-Quran agar manusia dapat merawat lensa yg sudah dikaruniakan tadi dan memanfatkannya dengan optimal utk kemaslahatan hidup mereka di dunia dan keselamatan di akhirat. Manual orisinil dari Pencipta lensa !

Hanya saja ada manusia yg bandel. Menuruti nafsu, mengubah setting lensa tsb ke arah yg ia suka. Mereka lupa, bahwa utk mengatur setting lensa tidak dapat sembarangan, PERLU baca manual. Tanpa petunjuk yg jelas, setting baru lensa tsb justru membuat si pemakainya hamba nafsu -- super fokus pada harta, tahta, wanita, ilmu, atau gabungan semuanya -- yg membuatnya lupa siapa Sang Pencipta dan untuk apa lensa tsb dikenakan pada nya.

Ada juga mereka yg merusak lensa. Tidak mau merenungi isi manual krn merasa hal-hal yg dituliskan di dalamnya terlampau remeh temeh. Menganggap ayat2 yg tertulis kurang "power" untuk meraih kemenangan dan kesenangan di hereafter. Mereka lah para pendeta/rabi/bhiksu yg menjauhi dunia, menyendiri, berpuasa tak henti, mengharamkan wanita, semata2 dgn tujuan menjadi manusia suci yg menafikan fitrahnya sbg manusia.

Nah pemenangnya spt yg disebutkan di 3:15 adalah manusia yg bertaqwa. Beruntunglah orang2 yg bertaqwa krn Allah telah menghadiahkan lensa yg terbaik utk mereka. Lensa yg dapat melihat/merasakan segala hal2 gaib tentang kenikmatan surga dan mengingatkan akan tipuan senda gurau dunia. Mereka percaya diri dlm melangkah krn telah diberi lensa yg jauh lebih baik dari lensa biasa (default) yg dimiliki mayoritas manusia.

Bgm orang bertaqwa itu memperoleh keistimewaan sehingga lensa mereka diupgrade Allah ?

Karena mereka yakin dgn janji Allah dan tak pernah berhenti menggapai janji tsb dgn memahami/mengamalkan hal2 yg dituntunkan dlm buku petunjuk. Beberapa diantaranya disebutkan dalam 3:16-17.


Which lens you wear today ?

*picture from here.



Comments Off

600 minggu

Posted in Hikmah, Islam by Blogger on the April 5th, 2011
Enam ratus minggu bukan waktu yang sebentar namun juga tak terlalu lama. Masih singkat jika dibandingkan dari jumlah hari kebaikan jika seorang muslim mendapat BIG bonus lailatul qadr 1000 bulan atau sekitar 4500 minggu. Nah kegiatan bermanfaat apa2 yg baik diisi generasi muda muslim untuk menghargai waktu 600 minggu itu ?

Salahsatu aktifitas yg dapat dipertimbangkan adalah menghafal al-Quran.

Kurun 600 minggu itu kurang lebih sekitar 12 tahunan. Angka 600 berasal dari jumlah halaman dalam al-Quran mushaf Ustmani, yaitu 30 juz x 20 halaman per juz nya. Lebih pas lagi 604 halaman. Dengan asumsi menghafal 1 halaman mushaf per minggu, maka scr teori dalam 12 tahun hafidz ! Apalagi jika sudah hafal Juz Amma maka ada diskon 20 halaman dan membuat angka 600 minggu menjadi lebih realistis untuk 29 juz.

Angka ini tak begitu mengejutkan apalagi kalau mau dimulai dari sekarang. Pernah di salahsatu kajian online diceritakan seorang ibu yang baru mulai menghafal al-Quran saat ia berusia 51 tahun dan ibu itu berhasil. Subhanallah ! Namun tak perlu lah menunggu usia segitu utk memulai :-)

Memang berat. Minimal perlu 3I untuk sukses: Ikhlas, Ingin, Istiqamah. Ikhlas melakukan ini semata2 ibadah kepada Allah bukan krn faktor2 duniawi. Keinginan yg kuat (Passion) untuk mencapai target khatam. Istiqamah untuk disiplin memantau kemajuan dari hari demi hari.

Dalam salah satu sesi TED[x] Jakarta, seorang motivator menantang pemirsa untuk melakukan satu hal yang baru selama 21 hari tanpa berhenti. Jika ini diimplementasikan dalam misi menghafal al-Quran, berarti perlu waktu untuk menghafal 2.5 baris ayat per halaman per hari.

Cukup 2.5 baris per hari ?

Karena di dalam satu halaman mushaf, paling banyak ada 15 baris ayat, maka dalam 7 hari target di atas dapat terpenuhi. Hanya saja misi menghafal ini berskala jauh lebih besar, misi600 tepatnya :-) Dapat diakali dengan memecah misi ini menjadi beberapa misi21. Katakan kontinu menghafal 2.5 baris perhari dari Senin ke Sabtu dan di hari ketujuh mengulang (muraja'a) hafalan halaman tsb atau halaman2 sebelumnya.

Looks promising, easy target ?

Ternyata dalam praktek memang tak semudah itu. Selain faktor 3I ternyata faktor muraja'ah membuat langkah penghafalan ini agak terseok. Semakin banyak hafalan maka muraja'ah pun cenderung lebih berat. Gejalanya sama: hafal 10-20 ayat pertama namun lupa ayat2 selanjutnya, tercampur antara ayat-ayat yg mirip dari surat yg sama atau surat lain, hukum tajwid yg terabaikan sehingga membuat otak kanan tak mampu membantu otak kiri menggali ingatan, dan hal2 non teknis lain seperti faktor kesibukan, kesehatan, ketiduran :-)

Namun jangan patah semangat juga karena ternyata banyak yg dapat merampungkan hafalan dalam waktu yg lebih singkat lagi ... 6, 4, 3, 1 tahun. Intinya, perlu ada program dan taat jadwal. Perlu kuat pemahaman tajwid, rajin mendengarkan mp3, dan menambah wawasan kosa kata bahasa Arab akan mendukung upaya percepatan. Sehingga diharapkan sinergi otak kiri dan otak kanan yg seimbang.

Jika tiba2 lupa sambungan ayatnya namun otak kanan menyimpan alunan mp3 Mishari al-Afasy (contohnya) pada ayat tsb, maka proses recalling oleh otak kiri akan amat terbantu. Apalagi jika di dalam ayat-ayat yg dihafal banyak kosa kata Arab yg sudah dikenal, ini lebih mudah. Pengalaman pribadi untuk menghafalkan empat surat di Juz 29 perlu waktu 40 hari (total 7 halaman). Namun ada pengalaman juga menghafalkan 2 halaman di juz yg sama tapi belum rampung juga padahal sudah lewat 4 minggu :-(

************

Membiasakan otak menghafal adalah salah satu cara membuat otak jauh dari serangan pikun karena hubungan antar neuron (synapses) nya selalu diperbarui alias bertambah "tebal" sehingga tidak mudah "putus". Ada sekitar 10 milyar sel otak dan masing2 sel memiliki sekitar 7000 hubungan satu sama lain. Seorang anak berusia 3 tahun memiliki hampir 1000 triliun synapses, dengan bertambahnya usia jumlah ini terus menurun mendekati 100 triliun saja pada masa dewasa, dan menurun tajam mendekati tua. Nah dengan membutat otak untuk sering melatih daya ingat maka diharapkan degenerasi hubungan ini dapat diperlambat alias melambatkan kepikunan.

Tepatlah ungkapan yg terkenal untuk otak ini Use it or Lose it. Kita tidak berhenti menghafal karena otak ini sudah pikun, namun otak ini akan menjadi pikun jika kita berhenti menghafal.
(diadaptasi dari versi George Bernard Shaw). Semoga Allah memudahkan dan mensucikan niat kita untuk menghafalkan al-Quran.


Comments Off
Older Posts »