Planet Singapura


Ramayana Revisited @Peranakan Museum

Posted in Singapore, Museum, Event, Dreamstime by Blogger on the May 22nd, 2010
Hanuman Mask From ThailandClown Mask in RamayanaHanuman StatueHanuman MaskHanuman Mask from BurmaYaksha Mask From ThailandHanuman Mask from Thailand
© Photographer: Iorboaz | Agency: Dreamstime.com

Click here to see more pictures.
Comments Off

Peranakan Museum

Posted in Singapore, Museum by Blogger on the July 12th, 2009
Peranakan Museum di Singapura terletak di 39 Armenian Street, menempati gedung tiga lantai bekas Old Tao Nan School, tidak jauh dari City Hall MRT Station. Seperti halnya museum-museum peranakan di kota-kota lain, seperti: Baba Nonya Museum di Malaka dan Penang State Museum, museum ini menyimpan berbagai pernak-pernik, sejarah, dan budaya yang unik dari komunitas peranakan di Asia Tenggara. Tidak hanya peranakan di Singapura, museum ini juga merekam keterkaitan budaya peranakan di daerah lain seperti Malaka, Penang, Sumatera, dan Jawa.

Dengan adanya 10 galeri dan dua geleri untuk special exibition, serta alat-alat multimedia yang tersedia, kita akan menjelajahi dimensi sejarah dan etnologi dari budaya Peranakan, termasuk warisan bendanya (seperti perak, porselin, perhiasan, tekstil) serta warisan yang tak berwujud (seperti gaya hidup, bahasa, makanan, dan ritual keagamaan). Normalnya harga tiket masuk museum ini adalah 5 dollar saja, namun karena kebetulan ada special exibition Baba Bling, harga tiket hari itu adalah 6 dollar.

Click here to see more pictures.

Links:
Peranakan Museum
[Wiki] Peranakan Museum
Uniquely Singapore - Peranakan Museum

Equipments:
Canon EOS 40D
Canon EF 50mm f/1.8 II
Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS

Photos courtesy of Boaz Wibowo.
If you upload the photos to other sites, you must add the phrase "Photo Courtesy of Boaz Wibowo and iorboaz.multiply.com" somewhere near the photos.
Comments Off

Singapore Philatelic Museum

Posted in Singapore, Museum by Blogger on the July 5th, 2009
Setelah mengambil beberapa foto di The Armenian Church, saya mengunjungi Singapore Philatelic Museum yang tidak jauh dari situ. Terletak di 23-B Coleman Street, museum ini bertempat di gedung bekas Anglo-Chinese School yang dibangun tahun 1904. Singapore Philatelic Museum pertama kali dibuka untuk umum pada tanggal 19 Agustus t 1995 untuk mempromosikan sejarah dan perkembangan filateli di Singapura yang multi-etnik. Tiket masuk cukup murah, 5 dollar saja.

Di tempat ini, kita akan melihat tidak hanya sekedar perangko dan kartu pos, tapi juga segala peralatan dan pernak-pernik seputar pos, seperti kotak-kotak pos unik, proses pembuatan perangko, vespa untuk mengantarkan surat, macam-macam stempel tanggal, dll. Terdiri dari dua lantai, ada beberapa ruangan utama, yaitu: Green Roon, Purple Room, Orange Room, Atrium, Room of Rarities, Heritage Room, dan Children's Room. Selain itu ada beberapa ruangan untuk eksibisi khusus: Gallery 1 dan Gallery 2.

Click here to see more pictures.

Links:
SPM Website
[Wiki] Singapore Philatelic Museum

Equipments:
Canon EOS 40D
Canon EF 50mm f/1.8 II
Tokina AT-X 124 AF PRO DX lens - AF 12-24mm f/4

Photos courtesy of Boaz Wibowo.
If you upload the photos to other sites, you must add the phrase "Photo Courtesy of Boaz Wibowo and iorboaz.multiply.com" somewhere near the photos.
Comments Off

Sentosa Island

Posted in Singapore, Museum, Pictures, Transportation, Zoo by Blogger on the December 20th, 2008
Senin lalu, saya sengaja cuti setengah hari untuk menemani tamu istimewa dari Jakarta yang datang ke Singapore. Dan Sentosa menjadi tujuan utama sepanjang siang dan sore sebelum menikmati santap malam di Orchard.


Singapore Cable Car

Pertama yang kami kunjungi adalah Singapore Cable Car. Pasalnya ini adalah moda transportasi termudah untuk mencapai Sentosa. Singapore Cable Car menghubungkan Mount Faber, the Keppel Harbour dan Sentosa sebagai berikut:

* The Jewel Box Station (formerly Mount Faber Station): 93 m (300 ft.) above mean sea level
* Tower 1: 80 m (260 ft.) above mean sea level
* Harbourfront Station: 69 m (225 ft.) above mean sea level
* Tower 2: 88 m (288 ft.) above mean sea level
* Sentosa Station: 47 m (154 ft.) above mean sea level

Kami memulai perjalanan dari the Keppel Harbour yang besebelahan dengan VivoCity. Dari the Keppel kami berlima ambil satu glass-bottomed cabin menuju The Jewel Box Station di Mount Faber. Kami menikmati pemandangan dan udara disana sebelum kembali ke the Keppel dan langsung menuju Sentosa Station. Selama berada di Cable Car kita bisa menyaksikan pemandangan Singapura yang tidak kalah bagus dibanding saat kita berada di Singapore Flyer.

Pemerintan Singapura mulai mencanangkan untuk membangun Cable Car ini pada tahun 1968. Dan empat tahun kemudian projek ini mulai dikerjaan. Dan pada tanggal 15 February 1974, Singapore Cable Car mulai dibuka untuk umum. Saat ini mereka mengoperasikan 81 kabin. Setiap kabin dapat membawa maksimal 6 orang. Dengan kecepatan 4 meter / detik, dibutuhkan 4 menit dari Mount Faber ke the Keppel dan 5,5 menit dari the Keppel ke Sentosa. Dari Mount Faber ke Sentosa dibutuhkan total waktu 12 menit, termasuk 1,5 menit saat berada di the Keppel.


Images of Singapore

Images of Singapore adalah museum yang akan membawa kita melihat keadaan dan kehidupan Singapura di abad 14. Di museum yang pernah mendapatkan penghargaan pretisius Thea Award untuk "Best Reinvention of a Cultural Heritage Center" di April 2006 ini kita bisa menyaksikan patung-patung berukuran sebenarnya, artefak-artefak langka, multimedia dan multiscreen teater menghidupkan kembali pemandangan, suara dan keadaan Singapura masa silam. Di tempat ini kita akan merasakan sebuah tempat dimana perbedaan budaya, nilai-nilai persatuan, petualangan, ketekunan bertemu dengan segala kemegahannya.

Tempat sangat-sangat diajurkan untuk dikunjungi. :D


Underwater World Singapore

Underwater World Singapore adalah sebuah oceanarium tempat lebih dari 2500 hewan laut dari lebih 250 spesies dari banyak tempat di dunia. Walau masih kalah jika dibandingkan dengan SeaWorld di Ancol-Jakarta dan Siam Ocean World di Bangkok, Underwater World Singapore cukup bagus sebagai tempat jalan-jalan alternatif bagi yang sudah bosan dengan hiruk-pikuk Singapura. Mulai dibuka untuk umum pada tahun 1991, Underwater World memiliki sebuah terowongan sepanjang 83 meter, tempat di mana kita bisa menyaksikan batu-batu karang, belut-belut, ikan pari yang anggun, kura-kura, hiu-hiu menyeramkan dan aneka rupa ikan lainnya.


Photo albums (you might need a Multiply account):
Singapore Cable Car
Images of Singapore
Underwater World Singapore

Links:
[Wiki] Singapore Cable Car
[Wiki] Images of Singapore
Sentosa: Images of Singapore
[Wiki] Underwater World Singapore
Underwater World - Official Website

Equipments:
Canon EOS 40D
Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS
Kenko DMC UV Filter 58mm
YXTM Lens Hood KLEW-60

Photos courtesy of Boaz Wibowo If you upload the photos to other sites, you must add the phrase "Photo Courtesy of Boaz Wibowo and iorboaz.multiply.com" somewhere near the photos.
Comments Off

Colombo: Kota Eksotik yang Terlarang Difoto

Posted in Planet Singapura, Museum by MCA on the May 18th, 2007

Ketika menerima kabar akan mendapat teaching assigment 1 minggu di Sri Lanka, kata Tamil Tiger langsung terlintas di benak saya. Ada rasa khawatir terhadap kondisi keamanan di negara pulau ini, apalagi seminggu sebelumnya kelompok Tamil Tiger kembali menyerang Colombo airport menggunakan single engine airplane. Tapi penasaran juga rasanya, seperti apa rasanya mengunjungi negara yang sedang rawan konflik? Apalagi selama di Jakarta sudah terbiasa dengan isu bom, pencopet di bus kota, dan preman Senen, jadi saya pikir akan aman nyaman saja di Colombo ;) .

Penerbangan 3.5 jam Singapore - Colombo terasa cepat, maklum pakai SQ. Biasanya langganan airasia atau jetstar, atau paling mentok Garuda kalau dibayari kantor. Film di pesawat Letter of Iwo Jima (Ken Watanabe), plus ngantri pipis ke kamar mandi, plus baca 10 halaman buku “The Art of Intrusion” (Kevin Mitnick), tak terasa sampai di Colombo.

Keluar dari Bandaranaike International Airport, saya langsung mencari-cari taxi pickup yang telah dijanjikan. Wah, tidak ada satupun driver yang menunjukkan badge dengan nama saya. Repot, jangan-jangan lupa dijemput. Setelah celingukan kira-kira 10 menit, saya putuskan cari taxi saja di luar airport. Ternyata si driver menunggu di luar, bukan di pintu arrival. Sambil menunggu antrian taxi, mata saya langsung mengobservasi sekeliling, mencari sasaran untuk koleksi foto-foto narsis.

Tapi saya harus menelan ludah kecewa, karena tentara dengan senapan M16 di tangan berjaga di sepanjang koridor airport. High security zone, dilarang mengambil gambar :( . Suasana airport Colombo tidak lebih ramai dari terminal Blok M, bahkan jalanan di depan airport juga kalah mulus dibanding boulevard Kelapa Gading. Semua tampak sederhana, fungsional, apa adanya. Bangga juga punya Sukarno Hatta. Bedanya, tidak tampak calo taxi di sini, aman dan nyaman.

Masuk taxi, agak surprise juga. saya duduk di kursi belakang dan tersedia seat belt di sana. Di jakarta, taxi sekelas blue bird hanya menyediakan seat belt di kursi depan :D . Si sopir cukup lancar berbahasa Inggris, meskipun dengan grammar agak kacau. Untuk mencairkan suasana, saya ajak dia ngobrol tentang cricket, karena tim Sri Lanka baru saja meraih prestasi bagus di kejuaraan dunia seminggu sebelumnya. Dia tampak gembira sekali, padahal saya ngerti cricket juga enggak ;) . Di Sri Lanka, sepak bola kurang populer. Cricket adalah olah raga massal, sama seperti orang Brazil menyukai soccer.

Setelah perjalanan 1 jam, sampai juga di hotel Ceylon Continental jam 13.30 siang. Check in, masuk kamar, ganti baju, turun lagi ke lobby. Untung ada bookshop yang menjual kartu telepon. Satu kartu telepon berharga 15000 LKR (Sri Lanka Rupee), atau sekitar US$15. Lega sudah, bisa SMS dan telpon-telpon ke kampung. 

Bagai para traveller, disarankan membawa US$ atau S$ karena mata uang LKR susah ditukar ulang ke mata uang lain. Jangan berharap menemukan money changer yang mau menerima LKR untuk ditukar ke mata uang lain, sangat sulit. Jadi sediakan LKR dalam jumlah yang memang dibutuhkan. Kalau Anda tidak memiliki LKR, tidak masalah. Rata-rata toko di Colombo menerima US$ sebagai sarana pembayaran, meskipun dengan rate kurang menguntungkan. ATM Cirrus, Alto. atau Maestro juga cukup mudah ditemukan. Satu hal lagi, jika Anda membayar belanjaan dengan US$ atau S$, maka uang kembalian diberikan dalam mata uang LKR.

Sedikit catatan kecil jika berbelanja, biasanya penjual di Colombo akan berusaha menawarkan barang-barang lain yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Saat saya menunggu uang kembalian, si pelayan menawarkan untuk membelanjakan uang kembalian dengan top up pulsa. Saya bilang No, thanks. Ternyata dia menawarkan barang lain lagi, lagi, dan lagi. Repot, namanya juga usaha :) . Say No saja, akhirnya dia berikan juga uang kembalian itu. Ini cuma penjual di level warung atau retail, kalau di supermarket untung tidak berperilaku sama.

Tips lain jika berbelanja di shopping center, biasanya tidak menggunakan harga pas. Jadi memang harus tawar menawar, sama dengan yang biasa terjadi di Pasar Senen atau Pasar Baru. Uniknya, penjual di sini menggunakan modus operandi yang sedikit lebih canggih daripada di Jakarta. Ketika kita berpindah dari satu toko ke toko lain untuk mencari harga lebih murah, maka seorang makelar akan mengikuti di belakang secara diam-diam. Si makelar berdiri di belakang kita, memberikan isyarat tertentu kepada penjual agar memasang harga pada level tertentu :) . Tujuannya jelas, agar bisa menjual lebih mahal dari harga sebenarnya. Nanti sang makelar akan mendapat komisi dari penjual. Inovatif juga triknya.

Kebetulan kamar hotel tepat menghadap ke Indian Ocean, pemandangannya sangat menarik untuk difoto. Sayang sekali terlarang difoto karena termasuk high security zone. Konon pemberontak Tamil Tiger bisa menyerang Colombo dari laut, wah! Untuk menentukan apakah suatu objek boleh diambil gambar atau tidak, sebenarnya mudah. Jika di sekitar lokasi terdapat tentara berjaga-jaga maka terlarang mengambil gambar. Repotnya, hampir di setiap sudut kota tampak tentara berjaga-jaga dengan senjata di tangan. Kehidupan tampak berjalan normal, walaupun seminggu sebelumnya pihak berwajib berhasil menangkap pelaku percobaan suicide bomber.

Mulai jam 7 malam, biasanya dilakukan regular checking di jalan protokol. Semua mobil diperiksa dan penumpang diminta menunjukkan kartu identitas. Setelah beberapa kali melewati jalan yang sama dan diperiksa oleh petugas yang sama, tampaknya si tentara mulai hafal. Besoknya lagi, dia memberi isyarat untuk langsung jalan, no checking.

Kota Colombo tidak lebih besar dari Solo. Bangunan berasitektur kolonial sangat mudah ditemui di setiap tempat. Memang di masa lalu Sri Lanka adalah koloni Portugis, Belanda, Inggris, sebelum akhirnya merdeka pada 1948. Sebelumnya negara ini bernama Ceylon, tetapi nama tersebut dirubah secara resmi menjadi Sri Lanka pada 1972. Sri berarti “suci”, sedangkan Lanka adalah nama pulau tersebut. Tidak jelas apa arti kata Lanka, sebutan pulau ini ditemui di dalam epic Ramayana, sebagai negara yang dipimpin oleh Rahvana. Dalam versi wayang jawa Lanka disebut sebagai Alenko yang diperintah oleh Rahwana.

Setelah 2 hari di Colombo, saya mulai merasa comfortable. Karakter penduduknya sangat mirip orang jawa. Ramah, menghormati tamu, dan welcome terhadap foreigner. Seperti kebanyakan negara berkembang, penduduknya mampu bekerja keras dengan gaji minimal. Kantor klien saya masih ramai pada jam 9 malam dengan para programmer yang sibuk memelototi layar monitor. Saya jadi teringat saat masih menjadi full time programmer dan dikejar dead line :D .

Akhir kata, 1 minggu di Colombo saya harus kembali dengan tangan hampa. Sedikit sekali koleksi foto yang didapat. Tidak banyak waktu luang karena jadwal mengajar baru selesai sekitar jam 7-8 malam. Sudah teler dan biasanya langsung tidur :) . Pada hari terakhir, hujan deras sehingga tidak leluasa mengambil gambar. Memang sedang apes…

Comments Off

Amazing Bali Vacation at a Lower Price

Posted in Planet Singapura, Museum by MCA on the April 25th, 2007

Do you want to explore Bali island with all of the magic attractions at a lower price? I can recommend you with the best choice. Contact Komang, the owner of Baliguide.biz. This is not a big travel agent company. He runs his own business, as his own boss :) .

According to his story, It was happenned accidentally. His job was not secure because of Bali Blast, and he decided to start his own tour guide service. Starting with one Isuzu Panther, he provided Bali touring service. He event drives the car by himself until now. Something he name it as a personalized service :) .

The biggest advantage of choosing him is because he is a native balineese. He knows everything about Bali. He can redirect you to various tourist attractions accrording to your interest. If you like rafting, speak to him. If you like art, traditional attraction, or just want to spend the time in a safe nightlife location, tell him ;) . Also, If you are in limited budget, ask him to recommend any cheap hotel, cafe, or food  court that meet with your pocket.

Eventhough I have not use his service, I highly recommend it. I know Komang personally, he was my schoolmate at Senior High School. A native Balineese, who try to survive and promote Bali culture. Give your time to explore his site for any cultural aspects about this beautiful island. Sad to say, most of the writing are still in Bahasa. But Komang speaks English well. Contact him at his phone: (62)-817 559 712. I want to visit Bali, something that I really need to do long time ago. I could not find the right time to do that. Hopefully soon..

Comments Off