Planet Singapura


How are you Friends………………?

Posted in Personal, MISC by Bagio n Susana on the October 21st, 2009

Long time I did not update this blog, not because that I lazy or no time..... but few months back, everytime I tried to update, the system told me that I could not upload any pictures.

Today, just try my luck............ and it works..............


Meanwhile, almost this 1 year I active @ Facebook......... find me there to see the latest pictures of our activities and visitors..........


Miss you all...........

Comments Off

Surat Perpisahan di Kantor

Posted in orang, Personal, Pekerjaan by ari3f on the September 24th, 2009

[Manusia] hidup hanya sebentar. Tapi setiap orang harus terus berjalan.

Kalimat ini adalah bagian dari penutup catatan perpisahan bagi kawan-kawan dan kolega di kantor. Padahal, awalnya saya ingin menulis pepatah Jawa yang cukup masyhur, seperti “Urip mung mampir ngombe” atau hidup hanyalah sekedar mampir [untuk] minum. Maknanya barangkali sama, bahwa keabadian itu bukan privilege kita, bukan tujuan kita, bukan ungkapan sehari-hari: ‘keabadian’ lebih cocok masuk ke dalam buku puisi, atau bentuk yang lebih tinggi, seperti kitab.

Bekerja pada dasarnya adalah mencoba, atau berusaha, melakukan sesuatu. Tak ada jaminan bahwa usaha selalu membuahkan hasil. Tapi setidaknya seseorang itu mencoba. Namun, hasil perlu terus dipikirkan karena ia bertindak sebagai motivasi, tujuan dan ukuran. Iya, manusia menggandrungi sesuatu yang terukur. Oleh karenanya, banyak instrumen, banyak parameter diciptakan, untuk memberikan skala. Hal ini berakar pada kemampuan manusia yang terbatas: ia adalah alat ukur yang buruk. Tangan kita tidak mampu mengukur berapa temperatur setrika panas. Lidah kita tidak mampu mengukur persentase NaCl di dalam garam yang kita makan. Otak kita tidak mampu mengukur seberapa cerdas lawan bicara kita. Kita hanya merasa, membatin, mengekspresikan apa yang sudah kita ketahui, bukan apa yang kita ingin ketahui.

Dalam proses bekerja, setiap orang memiliki semangat yang berbeda. Atau lebih tepatnya, perspektif yang berbeda terhadap suatu pekerjaan. Ia kemudian menilai, tentu dengan gajinya, dan sedikit menerapkan prinsip ekonomi: usaha jangan sampai lebih daripada pendapatan. Perspektif ini dibentuk oleh lingkungan kerja (kawan, atasan), jenis pekerjaan, citra pekerjaan (apa yang orang lihat tentang pekerjaan itu), nama perusahaan dan bentuk fisisnya. Ini perspektif salaryman, atau karyawan. Jika seseorang mempunya usaha sendiri, barangkali, semangat yang ia memiliki berfluktuasi lebih cepat, lebih dinamis; naik turun bahkan kacau. Biasanya semangat ini kembali konvergen jika solusi baru telah ditemukan dan nampak ada cahaya [keberhasilan] di sana. Jika solusi tidak ada baik usahawan atau salaryman akan berperilaku divergen, melebar, tidak tahu apa yang penting, out of cast dan berhenti di tengah jalan.   

Ini barangkali lumrah: setiap anak sekolah ingin sekali cepat bekerja. Demi apa? Tujuannya? Jawabannya juga trivial, sepele: ingin tahu. Tapi ternyata hal ini tidak sesepele yang dikira, karena setiap orang haus akan petualangan, sesuatu yang baru, bentuk dan atmosfer yang tak konservatif. Ketika ia telah bekerja, setelah beberapa tahun, ia ingin kembali ke sekolah. Namun, ini dibentuk oleh paradigma yang sedikit lain: ingin meningkatkan pengetahuan, atau sekedar ingin mengenang masa-masa sekolah. Yang pertama, ini bentuk yang lebih nyata dari sekedar “berpetualang”: meningkatkan pengetahuan, atau belajar lagi, adalah kompensasi dari kebuntuan dalam mencari jawab. “Belajar lagi” di sekolah berarti bahwa ada banyak hal yang ternyata tidak bisa didapat dari kantor atau tempat usaha. Ia didapat dari buku-buku orang lain yang juga mencari (bukan yang diberi), guru-guru yang menghabiskan belasan tahun mengajar dan mendapat feedback tentang pengetahuan. Yang kedua, “sekedar mengenang” biasanya tidak berakhir nyata. Ia hanya sisi romantik manusia, yang susah lepas dari masa lalunya. Ini tipe “sejarawan” yang sering dijumpai di kehidupan nyata.

Hidup hanya sebentar. Di dalamnya, meskipun demikian, banyak sekali manusia yang berkesan. Dia bisa berasal dari ibukota negara yang macet dan berpolusi, atau dari Silicon Valley bagian selatan yang sepi. Pertemuan dengan manusia-manusia ini yang sering memberikan banyak pelajaran dan kita membawanya hingga akhir hayat kita.

Hampir dua tahun lalu, saya menulis tentang pekerjaan: Dari Pesawat ke HDD: Nyambungnya Di Mana? Artikel ini berkesimpulan bahwa HDD dan pesawat, menurut pengalaman pribadi, dihubungkan oleh penggunaan finite element method. Selain itu, dua ”mainan” ini dihubungkan oleh pentingnya akurasi.  

Hari terakhir di kantor (sebuah perusahaan pembuat hard disk bermerk Jepang), yaitu 18 September 2009, saya menulis cerita pendek tentang interview saya. Di sana, barangkali pesan yang ingin disampaikan adalah, bahwa ketidaktahuan (yang kemudian diekspresikan secara naif dan kelakar) belum tentu menghasilkan sesuatu yang negatif. Tidak tahu, seperti yang diajarkan guru saya, adalah berkah bahwa kita perlu tahu apa yang harus dipelajar, berapa lama waktu yang diberikan untuk belajar. Hidup pada dasarnya mencari jawab atas ketidaktahuan kita. Jadi jangan takut.

Surat perpisahan tersebut ditulis dalam bahasa Inggris, dan berikut interpretasinya:

Semua berawal ketika MR [nama bekas bos saya yang pertama] datang ke sebuah lembaga riset untuk merekrut beberapa peneliti yang siap meninggalkan lab-nya. Lembaga ini mengkhususkan diri dalam penelitian penyimpanan data. MR mewawancarai sekitar 10-15 peneliti.

Saya memakai baju yang sangat rapi, seperti mau ke kondangan.

Ketika waktunya wawancara, saya masih ada di meja kerja untuk menjalankan program komputer. Waktu hendak berdiri, seseorang berjalan cepat menuju ke meja saya: “Hei, kamu pasti Arief. Senang berjumpa denganmu!”

Kaget! Tunggu dulu … kok ada tamu yang berkeliaran tanpa dikawal orang kantor?? Eh gak juga, ternyata ada kawan yang memandu dia. Cuma jalannya agak lambat, jadi ketinggalan. 

“Saya MR dari perusahan Jepang,” begitu sapanya. Ia lalu mengajak saya ke ruang konferensi untuk wawancara.

Eh tapi tunggu dulu. Saya seharusnya deg-degan gak karuan. Tapi semuanya cepat sekali, saya tidak sempat berpikir apapun juga. Bahkan saya tidak ingat lagi kinerja hard disk drive! Yang saya pikirkan saat itu: ya tuhan, mohon wawancaranya dipercepat (saya benci wawancara!).

MR berniat mentransfer expertise dari Amerika ke Singapura. Jadi ia memerlukan beberapa engineer. Engineer ini akan tergabung dalam satu grup bernama Product Engineering. MR lalu menjelaskan secara singkat apa itu PE, apa yang dikerjakannya, apa yang perlu kita pelajari. Setelah menjelaskan, ia lalu bertanya: bagaimana menurutmu?

Jawaban saya singkat: “Jujur saja, saya sama sekali nggak ngerti kamu ngomong apa!” MR ketawa ngakak. Tapi benar-benar saya tidak nyambung dengan yang ia sampaikan. Sama sekali baru, dan diberikan dengan cepat. Saya lalu menjelaskan bahwa pekerjaan saya di lembaga itu cukup sempit lingkupnya, tidak mencapai ke proses manufaktur dan memecahkan error codes dalam hard disk. Jadi lembaga ini dan perusahaan itu bekerja di alam yang berbeda. Tapi karena perbedaan itu, perusahaan ini jadi sangat menarik. Ia adalah terra incognita, sebuah tanah yang tak dikenal, yang perlu dijelajahi. Bidang pekerjaan PE sangat menarik dan menantang. Percayalah.

Ia menarik karena, seperti halnya pesawat terbang, hard disk drive itu highly-integrated, highly-complicated tapi sangat mungkin untuk dibuat. Ia menantang karena kamu akan menghancurkan head (pembaca data) dalam hard disk jika hitungan kita meleset sekian nanometer.  

MR lalu menyuguhkan kue, “Silakan dimakan kuenya”. Saya lalu mengambil satu (lapar sih) supaya tidak gugup, biar ada ‘pegangan’ – gocekan gitu. Dan untungnya itu bukan bulan puasa!

Rotinya cukup bermanfaat [untuk membuat rileks] dan kami ngobrol ngalor ngidul setengah jam, tentang bagaimana memecahkan problem di HDD dari nol. 

Pada 8 Oktober 2007 saya kemudian masuk kerja pertama kali di perusahaan ini. PE dibentuk dengan sembilan engineer dalam waktu enam bulan.   

***

Satu bulan lebih sebelum saya mengundurkan diri, MR mengakhiri masa penugasannya di Singapura selama dua tahun. Ia harus kembali ke Amerika. Belum lama MR keluar, satu kawan juga pindah ke Amerika. Lalu saya. Banyak orang tentu berspekulasi bahwa pengunduran diri saya karena MR, yang barangkali manajer favorit di sana, ‘pulang kampung’. Jadi saya mengalami demoralisasi. Padahal tidak. Bos yang sekarang juga baik sekali. Bahkan lebih rileks lagi. Alasan utama adalah bosan! Ha ha … akhirnya ngaku. Ya bayangkan saja empat tahun berkutat dengan hard disk. Dosa saya belum terbayar karena “murtad” dari dunia penerbangan. Jadi saya perlu kembali ke dunia penerbangan untuk menebus empat tahun kemurtadan ha ha ha …. untungnya ada yang berbaik hati menampung saya. Jadi saya berkelana dulu ke tempat lain.

Hidup petualangan!

 

Comments Off

Just for Fun… Be My Valentine….

Posted in Personal, MISC by Bagio n Susana on the June 17th, 2009
Wanted to know our date on Valentine day??

Click here: Our Valentine's Date

If you laugh, just give us a comment, please..................!


Just for fun... and make one for yourself.



Comments Off

Fantasy Pictures

Posted in Personal, MISC by Bagio n Susana on the June 15th, 2009
Comments Off

Original but Fake……….

Posted in Personal, MISC by Bagio n Susana on the May 17th, 2009

This picture is a combination of 2 pictures.....
Seems like I took picture among the Tulips' trees.....

Any comment for this?

*Tulips.............? Wish one day can go to the place where I can bury myself in the flowers bank!*
Comments Off

Me on Magazine cover?

Posted in Personal, MISC by Bagio n Susana on the March 11th, 2009
Hehehe... just for fun.....


Create Magazine Covers with your own picture at MagMyPic.com


Comments Off

Bondowoso: My Childhood

Posted in Personal, Masa Kecil, Tempat by ari3f on the February 21st, 2009

It’s written on 28 April 2006

Writing about own hometown is somehow delightful. Like entering a time machine, I’m able to trace back the past, the childhood.

Bondowoso is a small city in East Java. Bondowoso lies in the vicinity between two mountains: Gunung Raung (3332 m) and Gunung Argopuro (3000 m). Some people say Bondowoso is a quiet city, pension city, unpolluted city, “Tape” city in East Java; but I’d say Bondowoso is an apt place for recreation and contemplation. Crowd only “spins” around city square. Array of shops, or we call it pecinan or Chinatown, is located near city square. Bondowoso produces casava, sugarcane (Prajekan sugar factory), rice, tobacco, coconut and Arabica coffee. Bondowoso has no tea plantation since it lies merely 500 m above sea level. Tape (fermented casava; read as “taa - phe”) is a famous local cake that everyone must try. Bondowoso is also famous with her “Gerbong Maut”, a “deadly wagon” during Japanese occupation; the monument is placed in city square.

Besides Bahasa Indonesia, Bondowoso people speak Madurese and Javanese. They work as farmers and vendors, others work as government officers (city parliament, hospital, schools, army, police, district office). Local cultural event is bull fighting which normally takes place near riverbank of Sampeyan Baru (a river crosses over Bondowoso). Ethnographically, Bondowoso is not interesting since the ethnicity mixture performs homogeneity and similarity with other cities, like Jember, Situbondo, Besuki and Banyuwangi. Consciousness in politics is not so developed in Bondowoso since it has small influence and bargaining position in the province. Science and technology are expensive features, unless they are related to media. University of Bondowoso provides non-technological majors like agricultures, social science, education and politics.

Bondowoso is a basis of traditional muslim school organized by Nahdlatul Ulama. Mosque Al-Taqwa, which is the biggest mosque in Bondowoso located in front of city square, performs unique ambience during Ramadhan and Idul Fitri. Islam in Bondowoso is brought and seeded by clerics educated in Middle-East tradition. Therefore, the image of Muslim in Bondowoso reflects Arabic cultures. The image is somehow mixed with Javanese and Madurese cultures and it becomes syncretism.

When my fate brought me to the bigger cities, Bondowoso turns to be a “village” for me. But, this village has always been my hometown: Bondowoso has served me with her tranquility which is worth to crave for. She was dynamics when I was child, she enriched me with good and humorous friends, she provided me with modest and dedicative teachers, she is a “pond” of hospital people and she is as clean as heaven (I think this is too much hehe - I dont even know where heaven is).

In Bondowoso, I learnt the joy of swimming in the river, I learnt to speak Madurese, I rode my bike 125 km in 12 hours when I was 13 (Bondowoso – Pasir Putih, back and forth!), I participated city carnival during independence day celebration every 17 August, I joinned boyscout on Sundays, I took Becak (tricycle) to go to school (I even drove it sometimes!), I learnt how to play organ, I memorized multiplication table and Pancasila clauses (five fundamental pillars - shit happened when I was kid!), I happened to like several cute girls, I learnt how to drive car in a wet soccer field, I climbed Kawah Ijen and Gunung Raung, I enjoyed canoeing in Pasir Putih, I love “fly” satay (chicken kebab is extremely small - fly-sized indeed), I read hundreds of comics, I enjoyed Buku Pintar (encyclopedia), Egypt and Rome history, I learnt how to read Qur’an, I was fond of soccer, and I was loosing a close friend during secondary school (FYI, his body was found in February 1991 with only one leg; the rests were gone with the flood).

My father was assigned to work in Bondowoso in 1980. After 13 years, he was assigned to other cities. In 1999, finally we decided to build a permanent house in Bondowoso. We consider Bondowoso is a home. And every year, I’d inhale Bondowoso’s fresh air in sunny morning.

Do you know that Bondowoso has vast amount of pre-history (megalithicum) artefacts?

Comments Off

31

Posted in Personal by ari3f on the February 14th, 2009

Bagi saya, berumur 31 hampir tak berbeda dengan umur 30. Mungkin karena jaraknya yang hanya 1 tahun. Dan, karena saya masih diberi kesempatan menghirup oksigen buatan tuhan; bukan oksigen bikinan manusia yang ada di tabung-tabung rumah sakit. Naudzubillah. Alhamdulillah saya masih diberi kesehatan yang baik oleh tuhan.


31 ini unik. Ia bilangan prima (hanya bisa dibagi 1 dan dirinya sendiri). Di bukunya Paul Erdös, matematikawan Hungaria, rumus bilangan prima ini sederhana: 2ˆn - 1, di mana n adalah integer. Untuk n = 5, maka hasilnya adalah 31.

Di Bondowoso, tape yang terkenal adalah Tape 31. Di sana, 31 ini barangkali nomor rumah atau toko yang terletak di pecinan.

Tadi saya pergi makan malam dengan Tuti dan Verdi ke Al Azhar, sebuah kedai makan di depan Bukit Timah Shopping Center. Ezra tidak diajak karena lagi tidur pas kami pergi jam 6.30 sore. Sebelum naik bus, bahan obrolannya adalah lesunya perusahaan-perusahaan di Singapura yang menyebabkan pemangkasan karyawan (PHK). Tapi begitu sampai di Al Azhar, obrolannya ganti yang menyenangkan, yang bikin ketawa-ketawa. Masa makan-makan obrolannya serius hehe … Beda dengan masuk ke Al Azhar di Mesir, masuk ke kedai Al Azhar Bukit Timah kita tidak perlu hafal Quran :) Oiya, kami tadi memesan Sotong Bakar (skor 6/10), Baby Kailan (7/10), Sate Ayam (7/10), Tom Yam Seafood (6/10), Nasi Putih (6/10), Teh Halia, Teh Tarik, Lychee, Lime Juice. Lumayan kenyang, meskipun makanannya tidak fantastik. Tapi murah juga lho di sana. $36 utk bertiga, dan perut lumayan menjendul (bulging). Untungnya pulang masih mampu jalan … gak kemelakaren (over supplied).

Saya heran pada diri sendiri, mengapa setiap ulang tahun, pasti yang diingat adalah makan-makan, kue tart, harapan-harapan dan lainnya. Jarang sekali saya mengingat bahwa pada hari itu, 31 tahun lalu misalnya, ibu saya terbaring dan kesakitan karena saya hampir mbrojol ke dunia. Di hari ulang tahun seseorang, ibu lah yang seharusnya diingat.

Tepat 31 tahun yang lalu, ibu saya berumur 24. Karena masih di Jember, ia dilarikan ke Dinas Kesehatan Tentara (DKT) di kawasan Pagah. Setelah saya lahir, saya dibawa ke Gending. Ketika tahun 1980 pindah ke Bondowoso, akte saya dibuat. Jadi meski de facto lahir di Jember, tetap saya harus menulis Bondowoso. Ya jarak 33 km Bondowoso-Jember tidak jauh sih. Jadi ya tidak masalah :)

Ibu saya ini suka ngobrol, meski kelihatannya pendiam. Kalau ada tamu, bisa lama jagongan di ruang tamu. Waktu kecil saya agak heran, apa sih yang diobrolin sama orang-orang tua itu. Istilah-istilahnya kadang ajaib, aneh-aneh dan tidak ada di buku pelajaran SD; pasti “pinjam” dari majalah dan koran. Dia punya darah bisnis, jadi pengennya ya berusaha sendiri, tidak bekerja untuk orang lain. Bukan tipe PNS, yang pagi rutin ke kantor, pulang sore; nunggu gaji di akhir bulan, selalu bilang IYA kepada atasan, dan nunggu promosi. Ia tipe atasan, bukan anak buah. Dulu waktu SMA saya diminumin teh hangat tiap pagi, supaya melek untuk sholat subuh. Dalam pendidikan, ibu saya lumayan carefree: saya bebas ikut pecinta alam dan main band. Teman yang ibunya strict atau ketat kadang iri lihat saya yang selalu boleh jalan ke mana saja. Ibu saya ini intuisinya kuat; kadang dia bisa tahu saya bakal sial atau nggak. Yang masih konsisten dilakukannya hingga kini adalah mendoakan kami supaya selamat dunia akhirat dan sukses di setiap keputusan. Dia tidak mempermasalahkan saya tinggal atau bekerja di mana, yang penting pekerjaan itu halal dan praktek-praktek KKN tidak ada, itu sudah cukup. Menurutnya, kultur di Indonesia masih sulit membuat orang jadi bersih - bebas korupsi dan kolusi; jadi “Pergi dan bekerjalah di Singapura, jangan di Indonesia. Rejeki orang itu sumbernya ada di mana saja. Dunyo iki kabeh yo wek e gusti Allah”, begitu katanya dulu. Tentunya, dia sadar bahwa banyak juga orang bersih di Indonesia, tapi ya tidak banyak. Di Singapura, meski kebebasan berekspresi itu sangat terbatas, tapi setidaknya orangnya profesional; dana tidak pernah macet dan lumayan bebas korupsi dan pungutan liar. Ada juga sih kasus korupsi, tapi selalu berhasil ditutupi dan kalaupun ada di koran itu bakal dibereskan segera. Anggota dewan, meski pro pemerintah, tapi sebagian besar ya bersih orangnya.

Beberapa minggu terakhir ini saya kecanduan Facebook. Entah kenapa tapi saya senang saja karena bisa ketemu teman-teman lama. Ada lebih dari 60 ucapan selamat lewat Facebook dan email, termasuk dari Mas Balawan, seorang gitaris jazz Indonesia yang lagi naik daun. Terima kasih atas doanya kawan-kawan. Amin-nya tak banterno kok … hehe. 30 detik nulis message itu sangat berharga, apalagi isinya blessing kepada kawan sendiri hehe.

Yes, I am 31. Seorang kawan mengingatkan: ini usia rawan kolesterol tinggi. Bener juga. Mari perbanyak makan sayur dan ikan! :)

Comments Off

Best Friend Wedding

Posted in friends, wedding, Personal by Bagio n Susana on the February 8th, 2009
Saturday 7 February, 2009

One of my best friend is getting married today.......... at Guatemala, South America.


Though we can not go there to attend their wedding, but from a far we pray and blessing the new couple to have a blessing marriage life.



Hennes & Lorena,

Congratulations!!!

Note: Picture is taken from Facebook!
Comments Off

Cerita Dari Masa Lalu

Posted in Planet Singapura, Personal by Anthony Fajri on the June 7th, 2008

Dikala menahan rasa kantuk di perpus, tao2 ada yang mampir di ym. seorang temen akrab dari masa lalu, sebut saja dia harry potter. beliau ini adalah temen akrab-nya temenku yang paling deket (lily potter).

harry potter: eh, kata dumbledore, kamu dulu pernah bermasalah ama Hermione?
me: lho, dumbledore tao dari mana? perasaan aku cuman cerita ke lily potter. dumbledore tao dari sisi aku ato sisi hermione?
harry potter: dari sisi hermione. kata dumbledore, hermione dulu sering nyepelein kamu.
me: hahahah.

terus aku nelpon harry potter. lumayan buat mengenang masa lalu serta mendengarkan suara si harry potter yang biasanya cuman bertukar huruf di messenger.

Comments Off
Older Posts »